Dirjen KSDAE KLHK Bentuk TIM Terkait Kematian Kaluhara II di Kawasan TNK Kutim.

Jakarta - Direktoral Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) kementerian Kehutanan dan lingkungan hidup (KLHK) telah membentuk TIM penyidik untuk menyelidiki kasus kematian Orangutan di RT 17, Desa Teluk Pandan, Kutai Timur, pada Selasa (6/2/2018) lalu.

Dalam hal ini, Dirjen KSDAE KLHK menunjuk Balai TN Kutai bekerjasama dengan Polda Kaltim dan Polres Kutai Timur beserta Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Kalimantan Timur melakukan penyelidikan dan Penyidikan kasus Orangutan tersebut.

“Langkah yang diambil adalah melakukan penyelidikan terhdap pelaku penembakan bekerjasama dengan balai pengamanan dan penegakan hukum lingkungan hidup dan kehutanan Kaltim bekerjasama dengan Polres Kutim dan Polda Kaltim,” kata Kepala Sub Direktoral Pengawetan Jenis, Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Direktorat KSDAE, Fuja Utama melalui siaran persnya, Rabu (07/2/2018).

Selain itu, Dirjen KSDAE KLHK juga akan menurunkan 5 tim Balai TN Kutai ke Desa Teluk Pandan, Desa Sangata Selatan, Desa Sangkima, Desa Rantau Pulung, Desa Menamang, untuk bersosialisasi cara penghalauan orangutan dengan aman. Serta mensosialisasikan surat edaran Dirjen KSDAE No.SE.5/KSDAE/KKH/KSA. Tertanggal 2 Januari 2018 tentang kerjasama perlindungan dan penyelamatan orangutan (Pongo pygmaeus) di Kalimantan.

Membuat Group WA dengan Kepala Desa, Babinsa, Babinkantibmas, Tokoh MAsyarakat, Polsek Teluk Pandan, Kepala Resort TN Kutai di Teluk Pandan, LSM, dengan tujuan agar komunikasi terbangun cepat apabila terjadi gangguan satwa liar di lahan Masyarakat.

Segera menjajaki kemungkinan dilarangnya pemilikan senapan angina oleh masyarkat, TIM Balai TN Kutai dlam patrolinya menemukan anak dan induk orangutan di sekitar Desa Teluk Pandan dan selanjutnya dilakukan penghalauan kembali ke kawasan TN Kutai.

Fuja menyebutkan, berdasarkan data dari Forum Orangutan Indonesia (FORINA) pada tahun 2017, di Provinsi Kalimantan Timur terdapat terdapat perkebunan Sawit seluas 3. 447. 230 hektar  yang dikelolah oleh 322 perusahaan. Dimana 279.359 hektar atau 8 persen sebelumnya adalah habitat orangutan.

“Poulasi Orangutan di Kalimantan Timur berdasarkan data dari Populations Habitat and Viability Analysis (PHVA) tahun 2016 terdapat 2.920 individu. Dikawasan TNK sebanyak 1.931 individu Orangutan sesuai hasil Inventarisasi balai TN Kutai tahun 2017,” paparnya.

Sekedar diketahui, sebelumnya satu Orangutan berusia sekitar 5-7 tahun meninggal  akibat 130 peluruh yang bersarang ditubuhnya, serta terdapat luka benda tajan pada bagian lengan, sedangkan telapak kaki kirinya telah putus.

Kini jasat Orangutan bernama Kaluhara kedua ini telah disimpan di lemari pendingin RS Pupuk Kaltim dan selanjutnya akan dipindahkan ke lemari pendingin milik Balai KSDA Kaltim sebagai barang bukti untuk proses hukum lebih lanjut. (Sena)


share on: