Empat Anak Penyu Sisik Peliharaan Warga Dilepasliarkan

share on:
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni didampingi Kepala DLH selaku Plt Sekda Bontang, Agus Amir lepasliarkan empat anak penyu sisik di pantai Beras Basah Bontang, Kaltim

UPDATE BONTANG,- Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni lepasliarkan empat anak penyu sisik di Pulau Beras Basah, Jumat (5/7) pagi. 

Keempat anak satwa yang masuk dalam golongan hewan sangat terancam punah itu sebelumnya dipelihara oleh salah seorang pedagang kaki lima di Pulau Beras Basah.

"Anak penyu ini sudah saya rawat sekitar satu bulan lamanya," kata Herman kepada awak media.

Pria yang sehari-harinya lebih akrab disapa Pak. Pelong itu mengaku, mulanya memang sudah beberapa kali melihat beberapa penyu dewasa muncul ketika malam tiba. Namun ia tidak mengetahui kalau hewan itu adalah penyu sisik.

Tak disangka, penyu itu rupanya sedang bertelur tak jauh dari kios Herman. Hal itu baru ia sadari setelah melihat anak-anak penyu bersama induknya berhamburan menuju ke laut.

"Anaknya banyak, ada mungkin sekitar tiga ratusan. Empat ini sengaja saya pelihara sebagai bukti kalau disini ada penyu," ucapnya. 

Selama ia pelihara,  anak-anak penyu mungil berusia sekitar satu bulan itu ditampung dalam wadah plastik berukuran sekitar 20 x 5 centimeter. Lalu diberi makanan dari daging ikan yang telah dipotong-potong.

Kini keempat anak penyu itu telah dikembalikan kehabitatnya supaya bergabung kembali dengan kelomooknya. 

"Semoga cepat besar dan berkembang biak," ucap Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni didampingi Kepala DLH selaku PJ Sekda Bontang Agus Amir saat melepasliarkan satwa langka itu.

Neni sendiri tak banyak berkomentar soal pelepasliaran salah satu satwa langka ini. Politisi partai Golkar itu hanya mengajak masyarakat supaya menyelamatkan biota laut. "Mari selamatkan biota laut," singkat Neni.

Patut diingat bahwa Badan konservasi dunia (IUCN) memasukkan semua jenis penyu kecuali penyu pipih, sebagai hewan yang dilindungi.

Sedangkan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (CITES) memasukkan semua jenis penyu dalam appendix I, yang artinya dilarang diperdagangkan untuk tujuan komersial.

Di Indonesia, semua jenis penyu dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, yang berarti perdagangan penyu dalam keadaan hidup, mati maupun bagian tubuhnya dilarang.

Menurut Undang-Undang No.5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pelaku perdagangan (penjual dan pembeli) satwa dilindungi seperti penyu bisa dikenakan hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp100 juta.

Pemanfaatan jenis satwa dilindungi hanya diperbolehkan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan dan penyelamatan jenis satwa yang bersangkutan. (Sen) 


share on: