Kemenag, MUI, IDAI, dan Dinkes Bontang Sepakat Lanjutkan Imunisasi MR

share on:

UPDATE,BONTANG,- Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes dan KB) Kota Bontang menggandeng  Kementerian Agama (Kemenag), Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bontang, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melakukan jumpa pers tentang bahaya dampak penyakit Campak dan Rubella, di ruang pertemuan Bakti Husada I Dinas Kesehatan dan KB Kota Bontang, jalan Ahmad Yani, Bontang Utara, Jumat (31/8) pagi

 

Hal ini menyusul terbitnya fatwa MUI Nomor 33 tahun 2018 tentang larangan penggunaan Vaksin Measles and Rubella (MR) yang berasal dari Serum Institute of India (SII) untuk Imunisasi karena dianggap mengandung bahan dari Babi. Namun belakangan MUI kembali memperbolehkan menggunakan vaksin tersebut jika dalam keadaan darurat atau terpaksa.

 

“Keputusan vaksin MR dibolehkan oleh MUI didasarkan pada empat hal. Pertama karena pertama kondisi darurat. Kedua, belum ditemukannya MR yang halal dan suci. Ketiga, ada keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi. Keempat, kebolehan penggunaan vaksin MR tidak berlaku jika ditemukan adanya vaksin yang halal dan suci,” kata Wakil Ketua MUI Kota Bontang, Ustadz Jamariah, didampingi Kepala Kemenag Kota Bontang, H. Sulaiman Anwar kepada awak media.

 

Sementara pengurus IDAI Bontang yang diwakili oleh dr. Arlita Eka Putri Vivin Puspitasari menjelaskan bahwa vaksin MR telah teruji dan aman digunakan. Vaksin MR penting diberikan kepada anak supaya terhindar dari campak berat.

 

Menurutnya, sesuai prosedur imunisasi vaksin MR, setiap anak akan diberikan lembaran yang berisi keterangan riwayat penyakit maupun kondisi kesehatan sehingga dapat diketahui imun penerima vaksin MR untuk selanjutnya dikonsultasikan kepada dokter anak layak atau tidaknya anak yang bersangkutan di vaksin.


“Kita lakukan skrining dulu melalui guru sekolah dan memberikan lembaran fom ke setiap murid untuk di isi, apakah ada riwayat sakit tertentu.  Tenaga kesehatan kami juga telah dilatih penanganan Vaksin MR, termasuk indikasi pemberian vaksin MR, sama seperti melatih ORI difteri,” terang Arlita.

 

Namun menurutnya, semua tindakan pasti ada resikonya, tentu untuk mengatasi resiko itu dengan memilih vaksin yang digunakan banyak Negara yang terbukti aman lolos uji.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinkes dan KB Kota Bontang, dr. Bahauddin mengatakan bahwa fase kedua imunisasi MR sudah berjalan di 28 Provinsi Indonesia.

 

“Dalam 5 tahun terakhir, pada skala nasional telah ditemukan suspek campak sekitar 57.000 jiwa dan positif menderita campak 8.964 jiwa, 85 % diderita oleh anak kurang dari 15 tahun sedangkan rubella diderita 5.737 jiwa, 77 % anak kurang dari 15 tahun,” ujarnya.

 

Di Kota Bontang kata Bahauddin, imunisasi MR menyasar 48.024 jiwa anak dimulai sejak 1 Agustus 2018 dan berakhir 30 September 2018 mendatang. “Per 31 Agustus 2018, progres imunisasi vaksin MR pada usia 9 bulan hingga 15 tahun berada di kisaran 21,7 % atau 10.446 jiwa anak,” lanjut dia.
 

“Oleh karena itu, sejak dini mulai dari umur 9 bulan sampai dengan 15 tahun kita lindungi anak – anak kita dari penyakit campak dan rubella ini,” ajak Bahauddin.
 

Bahauddin menyebutkan tiga faktor penyebab relatif kecilnya cakupan imunisasi MR di Kota Bontang. Pertama, dinamika yang berkembang di masyarakat terkait isu boleh tidaknya penggunaan Vaksin MR.

 

Kedua, faktor jarak antara imunisasi Outbreak Response Immunization (ORI) difteri dengan imunisasi MR minimal berjarak empat minggu. Ketiga, libur sekolah hingga 16 juli sehingga imunisasi ORI difteri tahap II baru dilaksanakan pada minggu pertama masuk sekolah ditambah empat minggu jarak ORI difteri.


“Kami sudah melakukan kegiatan penyuluhan edukasi kepada masyarakat melalui puskesmas, Posyandu maupun disekolah-sekolah namun sebagian masyarakat memang masih ragu,” lanjut dia.
 

Penyakit campak dan rubella sangat berbahaya karena mempengaruhi daya tahan tubuh jika terinfeksi virus MR. Bahkan kata dia, jika tidak ditangani dengan serius dapat menyebabkan kematian.

 

“Ibu hamil yang terinfeksi virus MR akan mengalami abortus atau miskram (keguguran). Jika tidak keguguran, anak yang lahir akan mengalami cacat seumur hidup, seperti gangguan pendengaran / tuli, gangguan bicara, gangguan perkembangan otak, jantung bocor dan congenital rubella syndrome (CRS),” ujarnya.


Dengan demikian, lanjut Bahauddin, pihaknya akan tetap melanjutkan imunisasi MR dan penyuluhan edukasi baik di posko Kelurahan, Posyandu, sekolah, maupun Puskesmas.


“Pelaksanaan imunisasi MR sampai saat ini masih tetap kita lanjutkan, memang dengan kesadaran sendiri banyak masyarakat kita masih peduli terhadap kesehatan anaknya,” jelas Bahauddin.


Karena tujuan imunisasi campak adalah bagaimana kita meningkatkan kekebalan tubuh masyarakat supaya terhindar dari virus campak dan rubella, terutama bagi anak-anak.

 

“Tujuan lain adalah memutuskan transmisi virus campak dan rubella, menurunkan angka kesakitan campak dan rubella, dan menurunkan CRS,” tutupnya. (*)

Sena


share on: