Kisah Inspiratif, Merajut Asa di Pesantren Al–Barokah

share on:
Santri Bersama Pemilik dan Pengurus Pondok Pesantren Al - Barokah, Bontang - Kaltim

UPDATE.BONTANG - Sore itu, matahari tak lagi perkasa, gurat keemasan menghias cakrawala sebagai penanda senja menjelang, ada puluhan asa dititipkan pada tempat yang penuh berkah, bangunan bernuansa hijau bernama pesantren Al-Barokah.

Puluhan santri dan anak yatim piatu menghabiskan hari demi hari dengan keadaan yang jauh lebih baik dari lingkungan sebenarnya, tempat mereka dilahirkan.

Mungkin, hampir tidak ada anak yang ingin dilahirkan dari keluarga yang tak utuh, tapi takdir itu milik mereka. Beruntung keberadaan pesantren Al-Barokah milik salah satu pengusaha sukses di Kota Bontang, Sumaryono bisa menjadi tempat untuk mereka merajut asa.

Hari itu, Jumat (3/5/2019) kami berkenalan  dengan Muhammad Farel (10th), Harianto (13th), Ratu Siska (11th), Sam (7th) dan belasaan anak yatim dan piatu yang memilih tinggal di pondok. Mereka berasal dari daerah berbeda, kebanyakan dari luar Kota Bontang dengan kisah yang juga bermacam - macam.

Pemilik pondok pesantren Al-Barokah, Sumaryono menceritakan anak asuhnya yang terdiri dari 65 santri lepas dan 15 anak yatim piatu tersebut hampir semua berasal dari keluarga tidak mampu dan kurang beruntung.

"Berbeda dari pondok lainnya, Al-Barokah ini sengaja kami bangun untuk anak - anak yang broken home, karena siapa lagi yang akan memperhatikan mereka, memberikan tempat tinggal, menyekolahkan dan membesarkan kalau bukan kita," ungkap pemilik usaha Ayam Barokah ini.

Pondok pesantren yang berada di jalan Urip Sumoharjo Rt 11 Kelurahan Bontang Lestari Kecamatan Bontang Selatan, Bontang - Kaltim tersebut didirikan dari dana pribadi Sumaryono beserta sang Istri, Deni Puji Hastuti. Tak banyak yang mereka miliki tapi lapang jalan menuju niat baik sepasang suami istri ini, bahkan mereka rela menjual rumah dan kendaraan demi tabungan akhirat kelak.

"Awalnya cuma niat saja dulu yang penting bergerak, walau harus jual rumah dan mobil tapi Insya Allah bisa jadi tabungan akhirat," tegasnya.

Perlahan tapi pasti hampir setiap bagian dari bangunan pondok pesantren yang berada di kawasan seluas 20 x 50 meter persegi ini lengkap, mulai dari ruang perpustakaan, ruang dzikir, dapur umum, gudang makanan, kamar tidur hingga masjid dan toilet umum untuk para pengunjung atau pengendara yang singgah.

Berdiri sendiri dan berjalan sendiri, kalimat tersebut pas menggambarkan keberlangsungan pondok yang beberapa ruangnya menggunakan nama Ayah dan Ibunda sang pemilik. Mengapa demikian? Karena hampir tak ada bantuan biaya operasional dari pihak manapun.

"Pernah ada yang ingin membantu, tapi kata guru saya, jangan buang kesempatan yang harusnya menjadi milik kami, maksudnya ladang pahala jangan disia-siakan," paparnya dengan wajah teduh.

Tidak muluk - muluk, Sumaryono hanya ingin dikenal sebagai pendiri pondok agar kebaikannya dikenang oleh anak dan cucunya kelak. 

"Nggak ngarep macam - macam, mudahan pesantren ini bisa jadi ladang amal. Jadi siapapun yang punya saudara, kerabat, tetangga yatim atau piatu, jika ingin tinggal disini silakan, kami terbuka," ujarnya.

Senada dengan sang suami, Deni Puji Hastuti  mengatakan dirinya mendukung sepenuhnya keinginan suami untuk mendirikan pondok pesantren di tanah milik mereka bahkan ikut terjun langsung mengurus kebutuhan para santri.

“Saya ikut juga ngurusin anak – anak ini, ngajarin mereka hidup teratur, bersih dan disiplin. Tapi yang nggak kalah penting itu memberi mereka kasih sayang agar kembali optimis, karena latar belakangnya,” papar wanita berkacamata tersebut.

Setiap hari para santri melakukan rutinitas dengan disiplin, mulai dari kegiatan ibadah, bersekolah hingga tugas bersih – bersih yang digilir sesuai usia dan kemampuannya.

Suasana Sore Di Pondok Pesantren Al - Barokah

Harianto dan Muhammad Farel, kakak beradik ini telah menjadi santri pondok pesantren Al- Barokah sejak 3 tahun silam. Kondisi membuat mereka harus menjalani hari - hari bersama belasan anak lainnya demi kehidupan yang jauh lebih baik. Betapa tidak, di usia yang terbilang kecil mereka harus kehilangan sang Ibu, kemudian tak berselang lama Ayahnya menikah kembali , namun lagi – lagi Allah memanggil orang tua mereka, sang Ayah wafat bersama Ibu tirinya dengan jeda waktu yang tidak begitu lama.

Namun, beruntung hingga hari ini mereka bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga dan mengenyam pendidikan yang layak di pondok pesantren Al–Barokah.

“Kita senang tinggal disini, banyak teman – teman, setiap pagi kita bangun shalat berjamaah, belajar, bermain, sekolah, bisa mandiri dan menghafal Al-qur’an,” kata santri asal Bengalon ini.

Yang terpenting, tidak ada lagi raut sedih dari wajah mungil mereka. Seperti kebanyakan anak – anak seusia, mereka juga berhak merajut asa, menggapai mimpi setinggi langit di angkasa.

 

Wartawan : Kartika

Editor  : Kartika Anwar

 


share on: