Menteri Airlangga Sebut Industri Bontang Jadi Pioner Klaster Industri Petrokimia di Indonesia

share on:
Kunjungan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kemeja putih) Ke PT Pupuk Kaltim Bontang, Kalimantan Timur, 7 Juli 2018 (Foto-Humas Pupuk Kaltim)

BONTANG,- Kementerian Perindustrian RI menilai perusahaan Industri Petrokimia yang berada di kawasan Pupuk Kaltim  telah menjadi pelopor terbangunnya klaster industri petrokimia di Indonesia. 

Hal ini disampaikan Airlangga Hartanto disela-sela kunjungannya ke PT Pupuk Kaltim, Sabtu (7/7/2018). Menurutnya, kawasan industri petrokimia di Bontang merupakan contoh nyata keberhasilan pengembangan industri berbasis sumber daya alam yang dibangun mendekati sumber bahan baku.

"Tentu kami menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada seluruh industri petrokimia di Bontang yang telah berperan sebagai pelopor terbangunnya klaster industri petrokimia di Indonesia," tutur Airlangga.

Indonesia saat ini dipandang sebagai salah satu negara industri terbesar di dunia. Dalam 2 (dua) dekade terakhir, industri manufaktur menunjukkan perkembangan yang sangat menjanjikan, terutama dari aspek nilai tambah manufaktur. Hal tersebut salah satunya ditunjukkan dengan perkembangan industri kimia di Indonesia yang cukup baik. Pada tahun 2017, pertumbuhan industri kimia mencapai 3,48% dengan pertambahan nilai investasi mencapai Rp. 42.2 Triliun.

"Menurut World Bank, Indonesia telah berhasil membangun siklus ekonomi yang sehat, sehingga menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Hal ini berdasarkan peringkat PDB Global dimana pada tahun 2000 Indonesia berada pada peringkat 27 sedangkan pada tahun 2016 naik menjadi peringkat ke-16," paparnya.

Tidak sampai disitu, World Bank bahkan memproyeksikan pada tahun 2030 Indonesia akan menjadi Top 10 ekonomi terbesar di dunia. "Hal ini tentunya dapat tercapai dengan memperbaiki kondisi perekonomian nasional dengan, mengembalikan posisi ekspor netto (ke level yang sama di tahun 2000) yaitu 10% kontribusi Ekspor Netto terhadap PDB,  meningkatkan produksi dengan mengelola biayanya (serupa dengan perkembangan India), dan membangun kemampuan inovasi lokal (setingkat yang sama dengan China)," tegas Airlangga.

Saat ini Revolusi Industri sudah mencapai generasi 4.0 yaitu adanya integritas antara dunia digital dengan produksi industri untuk meningkatkan efisiensi nilai proses industri. Oleh karena itu, Pemerintah telah berkomitmen untuk membangun industri manufaktur yang berdaya saing global melalui percepatan implementasi Industri 4.0. Pun ditandai dengan peluncuran Making Indonesia 4.0 pada tanggal 4 April 2018 oleh Presiden Joko Widodo sebagai sebuah peta jalan dan strategi Indonesia memasuki era digital yang tengah berjalan saat ini.

Ia menjelaskan, implementasi Making Indonesia 4.0 yang sukses akan mampu mendorong pertumbuhan PDB riil sebesar 1-2 persen per tahun, sehingga pertumbuhan PDB per tahun akan naik dari baseline sebesar 5 persen menjadi 6-7 persen pada periode tahun 2018-2030.

Dari capaian tersebut, industri manufaktur akan berkontribusi sebesar 21-26 persen terhadap PDB pada tahun 2030. Selanjutnya, pertumbuhan PDB bakal digerakkan oleh kenaikan signifikan pada ekspor netto, di mana Indonesia diperkirakan mencapai 5-10 persen rasio ekspor netto terhadap PDB pada tahun 2030.

Selain kenaikan produktivitas, Making Indonesia 4.0 menjanjikan pembukaan lapangan pekerjaan sebanyak 7-19 juta orang, baik di sektor manufaktur maupun non-manufaktur pada tahun 2030 sebagai akibat dari permintaan ekspor yang lebih besar. "Industri kimia merupakan salah satu sektor industri yang menjadi fokus penerapan Industri 4.0 karena dinilai mampu memberikan dampak besar terhadap kontribusi PDB, perdagangan, nilai investasi, dan perkembangan industri lainnya di Indonesia," ucap Airlangga.

Pada tahun 2017, sektor industri kimia menjadi salah satu penyumbang utama kontribusi terhadap PDB yaitu 1,73% atau sebesar Rp 236 Triliun, dimana industri petrokimia menjadi salah satu penghasil komoditas bahan baku penting untuk sektor industri lainnya.

Industri Petrokimia di Bontang, Kalimantan Timur merupakan klaster industri petrokimia pertama yang sudah berjalan lebih dari 30 tahun yang dimulai dengan berdirinya PT. Pupuk Kalimantan Timur pada tahun 1977. "Hingga saat ini telah terdapat 5 industri petrokimia yang berada di kawasan Kaltim Industrial Estate (KIE) Bontang dengan komoditi yang beragam yaitu Amoniak, Pupuk Urea, Methanol, dan Amonium Nitrat," tandasnya.

Menurut Airlangga, hal utama yang menjadikan industri petrokimia berkembang di Bontang adalah ketersediaan bahan baku yaitu gas bumi. Kebutuhan gas bumi untuk industri di Bontang mencapai 452 MMSCFD atau sekitar 59% dari penggunaan gas bumi domestik di wilayah Kalimantan Timur.

"Tentunya perlu perhatian besar dari Pemerintah terhadap jaminan pasokan gas bumi jangka panjang dengan harga yang wajar untuk menjaga kelangsungan seluruh industri tersebut agar dapat berkembang dengan struktur yang kokoh dan berkelanjutan," ucap dia.

Saat ini masih terdapat sekitar 804 MMSCFD gas bumi dari wilayah Kalimantan Timur yang diekspor ke luar negeri. Memperhatikan pasokan gas alam yang cenderung menurun, Pemerintah perlu memastikan pemanfaatan gas bumi diutamakan kepada industri di dalam negeri. Pemerintah perlu menjaga agar tidak ada perpanjangan pasokan untuk kontrak penjualan gas bumi ke luar negeri. "Dengan demikian, pasokan gas yang ada di Kalimantan Timur dapat diprioritaskan kepada kebutuhan domestik terutama kelangsungan industri petrokimia di Bontang," tegas Airlangga.

Kementerian Perindustrian akan terus mendukung agar industri petrokimia di Bontang dapat terus berkembang. Selain kepastian pasokan bahan baku, Pemerintah juga akan mendorong industri petrokimia dalam upgrading teknologi dan peningkatan kemampuan R&D suapay dapat meningkatkan efisiensi pabrik. Hal tersebut sejalan dengan penerapan Industri 4.0 sehingga industri tumbuh dengan berdaya saing kuat.

Mengingat lokasi industri petrokimia di Bontang berada dalam kawasan timur Indonesia, keberadaan industri ini tentunya mendorong dalam mempercepat pembangunan di Indonesia bagian timur. "Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang besar kepada seluruh industri yang berada di Bontang, Kalimantan Timur yang telah berkomitmen dalam mendukung pembangunan industri nasional," tutur Menteri Airlangga.

Reporter - Sena


share on: