Rancang Dua Pabrik Methanol, Pupuk Kaltim Target Beroperasi 2023

share on:
Direktur Utama Pupuk Kaltim Bakir Pasaman

UPDATE.BONTANG,- Dalam kurun waktu lima tahun kedepan, PT Pupuk Kalimantan Timur (Kaltim) berencana membangun dua sekaligus pabrik methanol di kawasan industri miliknya.

 

Direktur Utama Pupuk Kaltim Bakir Pasaman mengatakan, beberapa calon partner yang sudah melakukan pendekatan, seperti Mitsui (Jepang), Sojitz (Jepang) dan LG (Korea). Investor yang terpilih akan membentuk perusahaan patungan (joint venture) untuk mengelola kawasan pabrik tersebut.


“Pupuk Kaltim rencananya akan membangun 2 pabrik methanol di Bontang. Masing-masing pabrik akan memproduksi sekitar 990 ribu metrik ton per tahun,” kata Bakir Pasaman di Bontang, Kaltim, Rabu (19/9).

 

Pabrik tersebut rencananya akan dibangun di lahan seluas 60 hektar. Namun karena keterbatasan lahan, perusahaan terpaksa harus melakukan reklamasi.


Untuk pembangunan dua pabrik diperkirakan akan menelan biaya sekitar US$ 1,6 miliar. Perusahaan juga akan membangun pabrik-pabrik turunan methanol seperti MTO, polypropylene dan polyethylene

 

"Jadi kalau ditotal mungkin sekitar US$ 2,5 miliar (sekitar Rp 37 triliun dengan perhitungan kurs Rp 14.800) itu nanti kita akan kerjasama dengan pemain yang sudah berpengalaman," tambahnya

 

Sejauh ini Pupuk Kaltim masih melakukan negosiasi dengan SKK Migas. Perusahaan meminta alokasi dan harga gas yang kompetitif.
 

Jika sudah mendapatkan harga yang diinginkan, maka proses tender sudah bisa dilakukan di 2019. Kemudian pada 2020 mulai melakukan proses tender Engineering, Procurement and Construction (EPC).


"Proses pembangunan pabriknya itu sekitar 36 bulan. Jadi paling cepat 2023 pabrik methanol ini sudah bisa berdiri," tambahnya.

 

Ini dilakukan lantaran belum adanya industri petrokimia yang berbasis methanol di Indonesia. Sementara yang ada saat ini hanya industri petrokimia berbasis naphta.


"Methanol ini turunannya bisa ratusan bahkan ribuan. naphta sendiri merupakan produk turunan dari minyak mentah yang bahan bakunya dari impor,” tutup Bakir. (*)

Reporter - Sena


share on: