7 Pelaku Jual Beli Surat Keterangan Bebas Covid-19 Palsu Diringkus Polisi

share on:
Kepolisian Resor (Polres) Jembrana, Bali menangkap tujuh orang komplotan pemalsu surat keterangan sehat COVID-19, yang diedarkan kepada masyarakat yang hendak ke Pulau Jawa lewat Pelabuhan Gilimanuk. (FOTO Antara News Bali/Gembong Ismadi/2020)

 

UPDATEINDONESIA.COM- Sindikat jual beli surat keterangan bebas Covid-19 palsu yang mencatut salah satu Rumah Sakit ternama akhirnya terbongkar.

Tujuh pelaku diringkus oleh jajaran Kepolisian Resor (Polres) Jembrana, Bali, Kamis (14/5), siang. Antara lain inisial Wid, RF, PEA,  BSP dan SWP, yang seluruhnya warga Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Negara serta IA yang warga Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur dan FMN yang warga Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. 

"Mereka sama-sama melakukan tindak pidana menjual surat keterangan sehat palsu. Kedua kelompok itu berbeda, tapi modusnya sama," kata Kapolres Jembrana Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) I Ketut Gede Adi Wibawa dalam keterangan persnya di Negara, Kabupaten Jembrana, Bali, Jumat (15/5) pagi.

Adi menyebut kelompok Wid, RF, PEA dan IA telah menjual 15 lembar surat keterangan sehat palsu dengan harga antara Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per lembar.

“Berdasarkan keterangan IA dan RF, mereka mendapatkan surat keterangan sehat palsu itu dari Wid dengan cara membeli Rp25 ribu per lembar, kemudian mereka menggandakan di tempat percetakan milik SWP,” lanjut Adi.

Sedangkan Wid mengaku, menggandakan surat tersebut bersama PEA, setelah ia menemukan surat itu tercecer di depan salah satu minimarket di Kelurahan Gilimanuk.

"Jadi, pelaku Wid, selain menggandakan dan menjual langsung ke masyarakat yang akan menyeberang ke Jawa, juga menjual surat itu kepada pelaku IA dan RF yang kemudian menggandakan sendiri," kata Adi.

Sementara FMN, BSP dan SWP juga ditangkap karena melakukan tindak pidana yang sama. Bedanya, kata Adi, tiga orang ini membuat sendiri surat keterangan sehat palsu tersebut yang dilakukan oleh SWP.

FMN berperan mengisi identitas penumpang yang akan membeli surat tersebut. Dalam blangko surat itu juga tertera nama dokter. Kemudian menjualnya dengan harga variatif antara Rp25 ribu untuk penumpang travel, dan Rp100 ribu untuk penumpang kapal yang menggunakan sepeda motor.

Saat ditangkap, FMN mengaku mendapatkan surat keterangan sehat itu dari BSP. Setelah ditelusuri, awalnya BSP membawa surat keterangan sehat ke percetakannya untuk minta diedit, namun dirinya menawarkan surat keterangan sehat yang sudah ia buat di komputernya.

"Mereka berdua sepakat untuk mencetak surat keterangan sehat yang sudah dibuat untuk diedarkan oleh FMN," katanya. Tujuh orang pelaku ini dijerat dengan 263 atau 268 KUHP dengan ancaman hukuman enam tahun penjara. (*)

Sumber-antaranews.com


share on: