Anomali, Bontang Disebut Kota Kaya Tapi Banyak Tumbuh Stunting

share on:
Ilustrasi

UPDATEINDONESIA.COM- Trend penderita stunting atau kurang gizi kronis di Bontang, Kalimantan Timur relatif meningkat dalam satu tahun terakhir.

 

Berdasarkan pemetaan Pemkot Bontang, prevalensi stunting dari 2021 hingga Desember 2022 mengalami peningkatan dari 19,6 persen menjadi 22,8 persen.

 

Wakil Wali Kota Bontang Najirah menilai masalah stunting harus menjadi perhatian semua pihak. Sehingga target penurunan 0,4 persen tahun ini terealisasi.

 

Menurut istri mendiang mantan walikota Bontang Adi Darma ini, penanganan stunting tidak perlu banyak ceremonial, melainkan melakukan aksi nyata.

 

"Ini anomali, disebut kota kaya tapi warganya banyak menderita stunting. Kita akan cari akar masalahnya," ujar Najirah, seusai rapat evaluasi konvergensi penurunan angka stunting di Pendopo, Selasa (17/1/2023).

 

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DPPKB) Bontang Bahauddin menuturkan, wilayah dengan persentase tertinggi anak stunting berada di Kelurahan Kanaan dengan 26 persen. 

 

Disusul Kelurahan Bontang Lestari dan Guntung masing-masing 23 persen serta Bontang Kuala 22 persen. Sebaran balita dengan risiko stunting terjadi di seluruh wilayah. Bahkan di kawasan perumahan elit sekalipun, seperti Belimbing dan Gunung Elai.

 

"Risiko anak tumbuh stunting juga tinggi. Dari total 37 ribu jiwa keluarga di Bontang, lebih dari 45 persennya masuk kategori beresiko kekurangan gizi kronis," ujarnya.

 

Bahauddin menyebut stunting yang dialami warga paling banyak disebabkan karena orang tua memiliki banyak anak. Kemudian ibu hamil yang telah berusia di atas 35-40 tahun.

 

Tahun lalu, kata Bahauddin, pemerintah sudah berupaya menekan angka stunting dengan membentuk aksi konvergensi melalui 8 aksi. Fokus penanganan dilakukan di 5 kelurahan, meliputi Loktuan, Berbas Pantai, Berebas Tengah, Api-Api dan Kelurahan Gunung Elai.

 

Tahun ini pemerintah menetapkan 5 wilayah baru yakni Guntung, Bontang Baru, Tanjung Laut, Bontang Kuala dan Tanjung Laut Indah. Olehnya, perlu langkah strategis untuk percepatan penurunan angka stunting melalui perwali.

 

"Saat ini Tim percepatan penurunan stunting sudah mempersiapkan 2 Perwali," tegas Bahauddin.

 

Patut diingat bahwa stunting tidak hanya menjadi ancaman utama terhadap kualitas hidup manusia Indonesia, melainkan juga terhadap kemampuan daya saing bangsa. 

 

Itu lantaran anak stunting bukan hanya terganggu pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan otak yang mempengaruhi produktivitas dan kreativitas di usia produktif. 

 

Dalam mencegah stunting pada anak sebaiknya perbaiki pola makan, pola asuh, serta sanitasi dan akses air bersih dilingkungan anda.  (*)