Dilema, Indonesia Memiliki Garis Pantai Terpanjang Kedua di Dunia Tetapi Masih Impor Garam

share on:
(Ilustrasi petani garam Indonesia-taufiqurokhman.com/)

JAKARTA- Indonesia dikenal dengan negara kepulauan terbesar di dunia dan memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia, yakni mencapai 95.181 kilometer. Anehnya, Indonesia masih bergantung terhadap impor dalam memenuhi garam industri dalam negeri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor garam Indonesia pada Maret 2021 sebesar 3 juta ton. Jumlah itu meningkat dari impor tahun lalu.

Realisasi impor garam Indonesia sepanjang 2020 mencapai 2,61 juta ton dengan nilai mencapai USD94,55 juta. Secara volume kebutuhan itu juga meningkat dibanding realisasi impor pada 2019, yaitu 2,59 juta ton dengan nilai USD95,52 juta

Level tertinggi terjadi pada 2018 mencapai 2,84 juta ton atau senilai dengan USD90,65 juta. Selama ini, Indonesia langganan garam impor dari Australia, Tiongkok, India, Thailand, dan Selandia Baru.

Menurut catatan Kementerian Perikanan dan Kelautan (KKP), RI punya lahan garam seluas 27.047,65 hektare. Namun kualitasnya belum mampu mengikuti standar kebutuhan industri.

"Garam kita dikerjakan oleh PN (PT) Garam dan petani dengan rata-rata produksi kondisi normal adalah 60 ton per hektar. Garam rakyat ini belum bisa menyamai kualitas garam industri," ujar Menteri KKP, Muhammad Lutfi dalam konferensi pers virtual, dikutip infopublik.id Jumat (19/3/2021).

Dalam 10 tahun terakhir rata-rata impor garam Indonesia mencapai 2,3 juta ton. Nilai impor garam Indonesia adalah 100 juta dolar AS per tahun atau setara dengan Rp1,45 triliun per tahun dengan asumsi kurs Rp 14.500 per dolar AS.

Riset Forum Diskusi Ekonomi Politik (FDEP) menyebut ketidakmampuan Indonesia memenuhi kebutuhan garam dalam negeri disebabkan oleh sejumlah faktor.

Pertama, masa musim kemarau di Indonesia tergolong pendek, yakni hanya sekitar 4 sampai 5 bulan. Dibandingkan Australia yang memiliki iklim panas hampir sepanjang tahun. Tidak heran jika negeri kangguru itu mampu menjadi 10 besar negara pengekspor garam dunia.

Kedua, kelembapan udara di Indonesia cukup tinggi, yakni sekitar 60-70 persen. Kondisi ini merupakan faktor penghambat dalam proses penguapan air laut menjadi kristal garam. Sementara Australia memiliki kelembapan udara yang rendah, yakni sekitar 20-30 persen.

Ketiga, peralatan dan teknik produksi garam di Indonesia masih dilakukan secara tradisional. Mengakibatkan mutu yang dihasilkan sangat rendah. Kadar NaCl dalam garam yang dihasilkan hanya berkisar antara 88-92 persen. Australia yang menerapkan inovasi teknologi (isolator) mampu menghasilkan kadar NaCl lebih dari 96 persen.

Keempat, petambak garam rakyat di Indonesia kurang mendapat pembinaan dari pemerintah sehingga kesulitan menaikkan produktivitas serta menghasilkan garam berkualitas tinggi. Kelima, luas areal tambak garam rakyat di Indonesia tergolong sempit dan berpencar-pencar. Rata-rata luasnya hanya 0,5 hektar per petambak.

Menteri BUMN Erick Thohir dalam pernyataan resminya beberapa waktu lalu terang-terangan membuka peluang bagi BUMN pangan untuk mengakuisisi tambang garam di luar negeri.

Tambang garam tersebut nantinya didorong untuk menghasilkan garam industri yang mengandung NaCl di atas 96 persen. Karena kebutuhan garam konsumsi sendiri sudah bisa dipenuhi oleh PT Garam (Persero).

"Akselerasi teknologi garam ini juga membuka peluang apabila harus men-take over (akuisisi) tambang garam di luar untuk transfer teknologi," ujarnya dalam konferensi pers usai FGD Konsolidasi BUMN Pangan, Kamis (29/4/2021). (*/bbs)