DPRD Kecewa Dewan Masjid Tak Libatkan Takmir Dalam Menentukan Kebijakan

share on:
Wakil Ketua DPRD Bontang Agus Haris (kemeja putih) bersama Anggota Komisi I Bakhtiar Wakkang (kemeja biru) hadiri undangan rapat evaluasi penentuan salat Idulfitri, di Pendopo Rujab Wali Kota Bontang, Kamis (20/5). (dok. Humas Pemkot)

UPDATEINDONESIA.COM- Imbauan salat Ied di rumah masing-masing sudah bulat. Ketentuan ini disepakati Pemkot Bontang melalui rapat evaluasi bersama Tokoh Agama dan Forkopimda di Pendopo Rujab Walikota, Rabu (20/5).

Dalam rapat evaluasi tersebut praktis hanya lembaga DPRD dan IKADI yang menyarankan salat Idulfitri di Masjid. Selebihnya Kemenag, MUI, NU, Muhammadiyah, Dewan Masjid, semua sepakat mengikuti instruksi pusat supaya salat Ied di rumah.

“Kami menyarankan salat Ied tetap dilaksanakan di rumah, karena jangan sampai kemarau setahun hujan sekali hilang sama sekali, artinya, 50 hari perjuangan kita memutus mata rantai penyebaran COVID-19, tetapi karena sehari justru menimbulkan lonjakan yang lebih besar,” ujar Ketua Dewan Masjid Bontang, Bakhtiar.

Menanggapi pernyataan tersebut, Wakil Ketua DPRD Agus Haris lantas meminta Bakhtiar membeberkan data kesepakatan dari seluruh takmir masjid. Nyatanya, Dewan masjid hanya mewakili suara pengurus, bukan mewakili takmir masjid.

“Pernyataan Ketua Dewan Masjid kami anggap sepihak karena tidak melibatkan aspirasi seluruh takmir masjid,” ujar Agus Haris saat dikonfirmasi usai menghadiri undangan rapat evaluasi.

Ketua DPC Gerindra Bontang ini mengatakan, harusnya sebelum bicara di forum, mestinya Dewan Masjid telah mengantongi keputusan bulat dari seluruh ketua takmir masjid, yang jumlahnya sekitar 200 lebih.

“Sangat disayangkan karena organisasi sebesar Dewan Masjid tidak mendengarkan aspirasi ketua takmir masjid dalam mengambil keputusan. Buktinya ada beberapa takmir masjid mengadu ke lembaga DPRD,” tegas Agus Haris.

Sementara itu, Anggota Komisi I DPRD Bakhtiar Wakkang menilai keputusan pemerintah menutup tempat ibadah selama pandemi Covid-19 perlu dievaluasi. Pasalnya, pusat keramaian dan perbelanjaan masih dibuka.

“Kesannya seolah-olah tempat ibadah sebagai zona penyebaran, padahal saya belum pernah dengar ada jamaah terjangkit Covid-19 di Masjid,” tutur legislator partai Nasdem itu. Meski demikian, keputusan tetap berada ditangan pemerintah. Lembaga DPRD hanya menyampaikan aspirasi masyarakat.

Sebelumnya, Ketua Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Bontang Ustadz Nadlif Ridwan mengingatkan pemerintah bahwa umat islam sejatinya telah melaksanakan protokol kesehatan sebelum wabah virus corona merebak.

Ia mencontohkan wudhunya umat islam. Dijelaskan bahwa umat muslim memiliki kewajiban melaksanakan salat lima waktu dalam sehari. Tiap mendirikan salat wajib hukumnya didahului wudhu. Dan itu dilakukan lima kali dalam 24 jam.

“Kita (umat muslim) boleh takut dengan sesuatu tapi jangan berlebihan sebab Allah SWT tidak mungkin menimpa musibah kepada suatu kaum kecuali untuk menguji ketakwaannya, jadi saya berharap salat Ied bisa di masjid, tentunya disertai protokol kesesatan yang ketat,” tegas Imam Masjid Baiturrahman itu.

Diketahui, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerbitkan fatwa Nomor 28 Tahun 2020 mengenai salat Idulfitri di masa pandemi Covid-19. Fatwa tersebut memuat ketentuan salat Ied di rumah, baik berjemaah mahupun sendiri (munfarid).

Berikut bunyi lengkap fatwa MUI Nomor 28 Tahun 2028 tentang ketentuan shalat Ied saat pandemi Covid-19:

Ketentuan hukum

1. Shalat Idul Fitri hukumnya sunah muakkadah yang menjadi salah satu syi’ar keagamaan (syi’ar min sya’air al-Islam).

2. Shalat idul fitri disunahkan bagi setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, merdeka maupun hamba sahaya, dewasa maupun anak-anak, sedang di kediaman maupun sedang bepergian (musafir), secara berjamaah maupun secara sendiri.

3. Shalat Idul fitri sangat disunahkan untuk dilaksanakan secara berjamaaah di tanah lapang, masjid, mushala, dan tempat lainnya.

4. Shalat Idul Fitri berjamaah boleh dilaksanakan di rumah. 5. Pada malam Idul Fitri, umat Islam disunnahkan untuk menghidupkan malam Idul Fitri dengan takbir, tahmid, tasbih, serta aktivitas ibadah.

Ketentuan shalat Idul Fitri di daerah terjangkit

1. Jika umat Islam berada di kawasan Covid-19 yang sudah terkendali pada saat 1 Syawal 1441 H, yang salah satunya ditandai dengan angka penularan menunjukkan kecenderungan menurun dan kebijakan pelonggaran aktivitas sosial yang memungkinkan terjadinya kerumunan berdasarkan ahli yang kredibel dan amanah, shalat Idul Fitri dilaksanakan dengan cara berjamaah di tanah lapang, masjid, mushala, atau tempat lain.

2. Jika umat Islam berada di kawasan terkendali atau kawasan yang bebas Covid-19 dan diyakini tidak terdapat penularan (seperti di kawasan pedesaan atau perumahan terbatas yang homogen, tidak ada yang terkena Covid-19, dan tidak ada keluar masuk orang), shalat Idul Fitri dapat dilaksanakan dengan cara berjamaah di tanah lapang/ masjid/ musala/ tempat lain.

3. Shalat Ied boleh dilaksanakan di rumah dengan berjamaah bersama anggota keluarga atau secara sendiri (munfarid), terutama jika ia berada di kawasan penyebaran Covid-19 yang belum terkendali. Jumlah jamaah yang shalat minimal 4 orang yang terdiri dari 1 orang imam dan 3 orang makmum.

4. Pelaksanaan shalat Idul Fitri, baik di masjid maupun di rumah, harus tetap melaksanakan protokol kesehatan dan mencegah terjadinya potensi penularan.

Sejauh ini, Bontang sendiri masih dalam status Kejadian Luar Biasa (KLB). Status KLB pertama kali diumumkan Wali Kota Bontang pada 16 Maret lalu. Hingga saat ini tercatat  ada 12 orang penduduk Bontang yang terkonfirmasi positif terjangkit virus Corona. Enam orang diantaranya telah dinyatakan sembuh. Sisanya dalam pemulihan kesehatan di ruang isolasi RSUD Taman Husada. Semua yang positif terjangkit virus ini merupakan pelaku perjalanan dari luar kota. (rus)


share on: