Kemana Pajak Walet Bersarang?

share on:
Ilustrasi panen sarang burung walet

BONTANG- Ekspor sarang burung walet kian menjanjikan. Data Kementerian Perdagangan menyebutkan, Indonesia memasok 38,57% kebutuhan sarang burung walet dunia. Disusul oleh Singapura (28%), China (9,15%), Hong Kong (4,69%), dan Malaysia (4,64%).

"Sarang burung walet mempunyai nilai ekspor yang luar biasa. Indonesia menjadi produsen utama dari sarang burung walet untuk dunia. Bahkan, kalau tidak salah, hampir 80 persen dari kapasitas dunia disuplai dari Indonesia," jelas Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dalam rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa, 4 Mei 2021.

Pada Oktober 2020, Badan Pusat Statistik (BPS), mencatat nilai ekspor sarang burung siap konsumsi (HS 04100010) selama Januari-Oktober 2020 adalah US$392,62 juta (Rp5,53 triliun). Dibandingkan dengan total ekspor Indonesia yang pada periode tersebut mencapai US$131,51 miliar (Rp1.851,64 triliun).

BPS juga mencatat adanya indikasi peningkatan ekspor sarang burung walet dari waktu ke waktu. Pada Oktober 2020 misalnya, ekspor sarang burung walet tumbuh 66,57% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY). Lebih tinggi ketimbang pertumbuhan bulan sebelumnya yaitu 57,35% YoY.

Sementara IQFAST Badan Karantina Pertanian (Barantan), mencatat jumlah ekspor sarang burung walet selama masa pandemi Covid-19, mencapai 1.155 ton dengan nilai Rp28,9 triliun. Jumlah tersebut naik 2,13% dari capaian tahun 2019, yang hanya membukukan 1.131,2 ton dengan bernilai Rp28,3 triliun.

Tujuan ekspor sarang burung walet Indonesia, menurut Barantan meliputi 23 negara seperti Australia, Amerika Serikat, Kanada, Hong Kong, Singapura, Afrika Selatan dan lainnya. Sayangnya, pencapaian ini berbanding terbalik terhadap retribusi pajak sarang burung walet di daerah.

Baru-baru ini, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kota Bontang, Kalimantan Timur menyoroti pajak sarang burung walet yang dinilai minim kontribusi. Padahal ada sekitar 246 usaha walet yang terdata di Kota Taman (sebutan Bontang).

Berdasarkan catatan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) kota Bontang, nilai pajak burung walet dalam lima tahun terakhir hanya di berada kisaran Rp7,72 juta.  Rinciannya, Rp6,57 juta pada 2018 dan Rp1,15 juta pada 2020. Sedangkan realisasi pada 2016, 2017, dan 2019 nol rupiah.

DPRD bahkan menilai pedagang kecil yang nobene tidak mengantongi IMB lebih taat bayar pajak ketimbang pengusaha walet. Harapan pemerintah kepada Bapenda memaksimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari retribusi pajak sarang burung walet dinilai gagal. 

"Bapenda tidak tegas! Seharusnya pemerintah memberikan sanksi tegas kepada pengusaha walet yang tidak taat bayar pajak,” tutur Anggota Komisi II DPRD Bontang, Suharno. (*)