Miseriono, Tahanan Lapas Bontang Yang Ahli Budidaya Semangka

share on:
Miseriono (46), Mentor Budidaya Semangka program pembinaan kemandirian warga binaan Lapas Bontang

BONTANG- Sepintas tak ada yang tahu jika Miseriono adalah seorang narapidana di lembaga pemasyarakatan Kelas II A Bontang. Layaknya tukang kebun, pria berusia 46 tahun ini sudah dua tahun lebih dipercaya sebagai mentor budidaya semangka dalam program pembinaan kemandirian warga binaan lapas Bontang.

Hasilnya cukup menjanjikan, berbekal lahan seluas 1,5 hektar. Lapas Bontang mampu menghasilkan 3,5 ton buah semangka tahun lalu. Kemudian, panen raya tahun ini ditaksir mencapai 4 ton lebih. Meski terlihat canggung, Miseriono tetap bersedia menceritakan pengalamannya membudidayakan bibit semangka kepada wartawan.

Kisahnya berawal di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur saban tahun silam, sebelum kasus narkoba menjeratnya. Bekal budidaya semangka itu kemudian ia tuangkan pada program kemandirian Lapas Bontang, dengan upah 50 persen dari keuntungan alias bagi hasil.

“Jam kerja 6 hari dalam seminggu. Mulai pukul 09.00- 16.30 Wita. Mulai dari pematangan lahan, menanam, perawatan, hingga panen,” ujarnya.

Dalam menjalankan rutinitasnya, Miseriono tak sendirian, ia dibantu beberapa narapidana lainnya. Tidak hanya itu, pria asal Jombang, Jawa Timur ini juga mendapat kepercayaan penuh. Mulai dari pemilihan jenis bibit semangka, pupuk, hingga obat pestisida pembasmi hama. Pengadaan bahan-bahan tersebut ia ajukan ke petugas Lapas. Setidaknya ada dua jenis semangka yang ia tanam dengan metode kawin silang, yakni Red Amaranth dan Legyta.

“Jenis betina Red Amaranth. Legyta yang jantan warna kuning. Proses penanaman hingga panen memakan waktu sekitar 60 hari,” sambungnya.

Ia memperkirakan biaya awal produksi mencapai Rp10 juta. Sementara estimasi penjualan, jika dikalkulasikan 4 ton dikalikan dengan Rp5000 per Kilogram (Kg) harga rata-rata buah semangka di pasaran. Maka nilainya bisa tembus di angka Rp20 juta sekali panen.

“Struktur tanahnya memang cocok untuk budidaya semangka karena berpasir. Hanya saja biaya perawatan juga tinggi karena rumput cepat subur,” ujarnya.

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kemenkumham Kaltim, Jumadi membenarkan pernyataan tersebut. Menurutnya, metode budidaya semangka yang diterapkan Lapas Bontang, sudah benar. Tinggal meningkatkan cara pengelolaannya supaya kualitas dan mutu buah yang dihasilkan lebih maksimal.

“Ini sangat bermanfaat untuk masyarakat karena sekarang masing-masing Lapas didorong bisa menciptakan produk unggulan. Misalnya, kalau berbicara budidaya semangka itu ada di Lapas Bontang, Furniture Lapas Tenggarong, peternakan Lapas Balikpapan, Perikananan Rutan Samarinda,” pungkasnya. (sena)