Pertina Bontang, Dari Ring Jalanan Hingga terbaik di Kaltim

share on:

UPDATEINDONESIA.COM- Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) Bontang menorehkan prestasi gemilang di ajang Porprov VI Kaltim 2018 lalu. Dari 13 atlet yang dikirim untuk berlaga, 9 diantaranya meraih medali diantaranya 2 medali emas, 4 perak, dan 3 perunggu. 

Dua medali emas dipersembahkan oleh Qidzura yang turun di kelas 54 kilogram putri dan Langgeng Setio Utomo kelas 64 kilogram putra. 

Sedangkan empat medali perak direbut oleh Dewi Herlinawati di kelas 46 kilogram putri, Tiara Arinda Ningsih kelas 51 kilogram putri, Nur Khamila Rumengan kelas 60 kilogram putri, dan Eriyanto H kelas 91 kilogram putra.

Sementara tiga perunggu disabet oleh Ali di kelas 49 kilogram putra, Rio Sandar kelas 52 kilogram putra, dan Ahmad Jaelani yang turun di kelas 81 kilogram putra.

Sekretaris Pertina Bontang Hasbiah mengatakan, torehan medali ini menempatkan cabor Pertina Bontang berada di urutan tiga terbaik pada ajang Porprov Kaltim 2018. Sebelumnya Pertina Bontang menyabet juara umum di pra Porprov kaltim.

“Ini pertama kalinya Pertina Bontang bisa meraih banyak medali sepanjang ikut serta di ajang Porprov kaltim. Khususnya medali emas,” kata Hasbiah kepada updateindonesia.com pada Selasa (18/12) petang.

Untuk meraihnya pun bukan tanpa hambatan ucap Hasbiah, jajaran pengurus Pertina Bontang harus dihadapkan dengan segudang persoalan selama persiapan. Mulai dari peralatan dan fasilitas latihan yang ala kadarnya, minimnya anggaran pembinaan atlet serta tekanan orang tua atlet agar anaknya tidak mengikuti kejuaraan.

Namun semua bisa ia  atasi dengan tekad yang kuat dan kekompakan internal pengurus. “Walaupun hanya memaksimalkan anggaran pembinaan dari KONI Bontang yang hanya sebesar 50 juta per tahun, tetapi kami tetap semangat karena kami punya tekad ingin berjaya di Porprov Kaltim yang dilaksanakan di Kutai Timur,” lanjutnya.

Sedangkan perhatian dari Dispora Bontang hampir dipastikan tidak ada, kecuali mendekati kejuaraan pelajar. Itupun kebanyakan Cabor yang menutupi biaya kebutuhan para atlet.

Hasbiah menegaskan, sejauh ini Pertina Bontang baru memiliki dua Sesana latihan, yakni di BTN KCY dan di jalan Pupuk Raya. Mirisnya kedua tempat latihan itu terlihat sangat tidak layak lantaran berada ditempat terbuka dengan fasilitas seadanya.

“Bahkan Sesana di BTN KCY itu kita pasang di tengah jalan, jadi kalau ada kendaraan yang mau lewat terpaksa kita stop dulu. Untungnya selama persiapan mengikuti kejuaraan kami dipinjami fasilitas latihan di Den Arhanud Rudal Bontang,” tuturnya.

Meski begitu pihaknya tetap memberi apresiasi kepada pemerintah dan KONI Bontang yang selalu memberi dukungan kepada atlet. “Jujur saja tanpa adanya uang saku tidak ada penyemangat buat atlet. Dan Alhamdulillah saya merasa bersyukur karena berkat kerja keras para pelatih kami bisa mencetak atlet yang bisa berbicara di ajang Porprov tahun ini,” lanjut dia.

Karena memang lanjut dia, di kelas junior Bontang cukup disegani di Kaltim. “Di kelas junior Bontang termasuk yang diperhitungkan, kami hanya bersaing dengan Kutai Kartanegara (Kukar),” lanjutnya.

Hanya saja Pertina Bontang merasa kecolongan di Porprov 2018. Kami tidak pernah menyangka daerah lain mengambil pemain dari luar daerah, Misalnya ada dari Sulawesi Selatan, Ambon, bahkan ada dari Jawa Barat.

“Sedangkan Bontang sendiri tetap bertekad tetap menggunakan murni atlet binaan sendiri. Karena kita tidak mau berjaya dibalik cibiran orang itu prinsip Pertina Bontang,” pungkasnya. (sena)

 


share on: