Polisi: Otak Penyelundupan 126 Kg Narkotika Di Kaltara Dikendalikan Dari Dalam Lapas Bontang

share on:
Polda Kaltara berhasil menggagalkan peredaran 126 Kilogram Sabu yang dikendalikan oleh salah satu Napi di Lapas Bontang

UPDATEINDONESIA.COM- Polda Kalimantan Utara (Kaltara) berhasil menggagalkan penyelundupan narkotika jenis sabu seberat 126,6 kilogram. Zat berbahaya yang dikemas dalam 100 bungkusan ukuran jumbo ini rencananya akan diedarkan di Kalimantan Timur (Kaltim).

Dalam pengungkapan kasus ini, polisi berhasil membekuk sedikitnya lima orang tersangka, yakni SY (42), JE (38), AJ (27), RE (41) dan DK (47). Para tersangka diamankan di waktu dan lokasi berbeda di Kaltara dan Kaltim.

“Pertama kali diamankan di salah satu hotel di Bulungan yakni tersangka SY dan JE. Keduanya berperan sebagai kurir yang dijanjikan upah sejumlah uang tunai jika berhasil mengantarkan sabu tersebut ke alamat tujuan,” kata Kapolda Kaltara Inspektur Jenderal Polisi Bambang Kristiyono dalam jumpa persnya Senin (9/8/2021).

Bambang menyebut kasus ini terungkap pada 1 Agustus 2021 lalu sekitar pukul 16.00 Wita. Di mana, jajaran Dit Resnarkoba Polda Kaltara mendapatkan informasi ada penyelundupan ratusan kilogram sabu lewat jalur darat. 

Mereka berangkat dengan mengendarai mobil dari Bulungan Kaltara menuju perbatasan Kaltim dengan tujuan Kutai Timur dan Bontang. Berdasarkan laporan tersebut, petugas dari Dit Resnarkoba Polda Kaltara langsung melakukan penyelidikan hingga akhirnya berhasil melacak keberadaan SY dan JE.

Kemudian polisi Polisi langsung melakukan penggeledahan barang bawaan dan menemukan barang bukti berupa 5 buah tas besar berisikan ratusan kilogram serbuk sabu yang disembunyikan di dalam mobil Toyota Innova.

“Barang haram tersebut mau diantar ke pemiliknya di Bontang yakni DK. Namun, mereka akan bertemu dengan orang suruhan lain setibanya di Kutai Timur, yakni AJ dan RE,” ujar jenderal polisi berpangkat dua bintang ini.

Setelah mendapatkan pengakuan kedua tersangka, sebut Bambang, petugas langsung melakukan pengembangan ke Kutai Timur menggunakan teknik penyelidikan control delivery hingga akhirnya AJ dan RE berhasil diringkus.

Setelah itu, pengembangan kembali dilakukan dan berhasil mengamankan DK yang diduga sebagai pemilik dan pengendali narkoba dari dalam Lapas Bontang. 

Kepada polisi, DK mengakui bahwa semua barang haram tersebut dipesannya via handphone dari seseorang berinisial RC, yang hingga saat ini telah ditetapkan sebagai daftar pencarian orang (DPO).

“Semua tersangka dan barang bukti dibawa kembali ke Bulungan. Mereka harus menjalani proses hukum di Polda Kaltara. Para tersangka terancam hukuman pidana paling singkat 5 tahun penjara, dan paling lama seumur hidup atau hukuman mati,” terang Bambang.

Lapas Bontang Kecolongan

Kepala Lapas Klas II A Bontang Ronny Widiyatmoko menyebut keterlibatan warga binaan atas nama Kaharuddin Lampahu atau Daeng Kahar alias DK dalam kasus ini di luar dugaan. Bahkan, segala upaya pendekatan hingga razia rutin dilakukan.

“Yang bersangkutan merupakan pindahan dari Lapas Samarinda pada 12 Agustus 2020. Ia divonis 11 tahun penjara serta denda Rp 1 miliar, subsider 3 bulan atas kasus narkoba. Seharusnya sisa hukuman selesai pada November 2022,” ucapnya.

Disinggung mengenai asal usul handphone yang digunakan DK dalam menjalankan bisnis haram di balik bilik penjara. Ronny mengatakan pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan kepolisian.

Pasalnya, Lapas Bontang tidak pernah memperkenankan warga binaan memiliki ponsel. Bahkan pihaknya sudah menyediakan 30 perangkat khusus untuk warga binaan agar bisa berkomunikasi dengan keluarga.

“Saya jamin tidak ada petugas kami yang terlibat dalam kasus ini. Semua anggota saya bersih,” tegasnya. (*)