PT PHM Kembangkan Teknologi Pengeboran Tepat Guna

share on:
Konstruksi pengeboran PT PHM di Wilayah Kerja Mahakam

UPDATE.JAKARTA- Dalam kurun dua tahun terakhir, PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) menjadi operator di Wilayah Kerja (WK) Mahakam terus melakukan terobosan baru guna demi mempertahankan optimalisasi produksi dari lapangan minyak dan gas bumi yang telah mature.

General Manager PT PHM, John Anis, dalam paparannya di ajang Indonesia Petroleum Association (IPA) Convention & Exhibition pada 5 September 2019, di Jakarta mengatakan, "Hal yang harus dijawab dari inovasi teknologi itu adalah bagaimana menghadirkan teknologi yang tepat untuk memproduksi minyak dan gas dari berbagai reservoir kecil yang jumlah sangat banyak dengan biaya serendah mungkin," ujarnya. 

Sebagaimana diketahui bahwa karakter reservoir di WK Mahakam sangat unik karena lokasinya berada di delta Sungai Mahakam atau lebih dikenal dengan deltaic system.

"Di WK ini reservoir minyak dan Gas berbentuk seperti ribuan kantong-kantong kecil yang tersebar di area rawa dan laut seluas lebih dari 3.000 km2, dengan kedalaman hingga 5.000 meter," lanjutnya. 

Oleh sebab itu, produksi Mahakam sangat tergantung dari pengeboran sumur-sumur baru, karena reservoir-reservoir itu tidak terkoneksi satu sama lain. 

Sejauh ini berbagai reservoir di main zone telah diproduksi, sehingga untuk kelanjutan WK Mahakam maka diproduksi sumur-sumur di shallow zone (zone dangkal), dan ke depan dikembangkan sumur-sumur High Pressure High Temperature (HPHT). 

Para Engineer terus mengembangkan teknik dan metode yang aman untuk menghasilkan gas di zona-zona dangkal yang sebelumnya dinilai produksinya berbahaya atau Shallow Gas Development. 

"Upaya tersebut tersebut sangat bagus dan berhasil karena telah dibor lebih dari 200 sumur di zona ini tanpa ada insiden apa pun dan gasnya dapat diproduksi," lanjutnya. 

Ke depan, Shallow Gas Development yang telah sukses di kawasan rawa-rawa (swamp area) akan dikembangkan juga ke lapangan-lapangan yang ada di lepas pantai (offshore).

Kemudian tahun 2020, PHM juga berencana menerapkan metode pengeboran High Pressure High Temperature (HPHT) di lapangan Tunu. 

Untuk itu, perencanaan dan arsitektur pengeboran yang khusus dan seksama terus ditelaah. Karena kegiatan pengeboran nantinya akan menghadapi tantangan tekanan reservoir yang tinggi (>13.000 Psia) dan suhu gas yang sangat panas (>160oC). 

Tantangan selanjutnya adalah bagaimana mengintegrasikan produksi dari sumur HPHT itu dengan fasilitas produksi yang sudah ada, karena tidak dirancang untuk produksi gas yang menggunakan teknologi HPHT.

Para ahli perminyakan di PHM juga telah mengembangkan arsitektur sumur yang lebih sederhana (light architecture), sehingga mampu mempercepat  pengeboran sumur-sumur baru. 

Sejumlah rekor pernah dicapai, yakni menyelesaikan pengeboran sumur gas dalam 3,4 hari, dan sumur minyak hanya dalam tempo 4,98 hari di Lapangan Handil. 

Aplikasi teknologi yang lebih mutakhir juga  mempersingkat aktivitas pengeboran lebih dari 1,5 hari. Inovasi tersebut telah berhasil memangkas biaya operasi pengeboran.

Dalam upaya optimasi ini, tengah dikembangkan pula  design platform yang lebih tepat guna (Ultra Minimalist Platform) dengan memakai struktur Zeepod atau pun Braced Monopod, yang disesuaikan dengan kebutuhan. 

“Semua inovasi teknologi dalam pengeboran sumur dilakukan tanpa mengorbankan faktor keselamatan,“ tegas John Anis. 

Dengan dukungan SKK Migas dan PT Pertamina Hulu Indonesia selaku induk perusahaan, PHM telah mendapat persetujuan untuk melaksanakan program Optimasi Pengembangan Lapangan-Lapangan (OPLL), dengan target mengebor 257 sumur pada program kerja 2020 – 2023. 

OPLL ini juga mencangkup pemasangan booster compressor di salah satu anjungan di lapangan Peciko serta pemasangan pipa dari anjungan Jempang Metulang di lapangan South Mahakam ke anjungan Sepinggan P yang dioperasikan PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur untuk memasok gas ke kilang Refinery Unit (RU) V di Balikpapan.

"Ke depan, Mahakam juga akan berkontribusi dalam pasokan gas untuk pengembangan kilang yang merupakan bagian dari proyek RDMP (Refinery Development Master Plan)," lanjutnya.

Sepanjang 2019, PHM telah memprogramkan untuk  tajak 118 sumur, dimana sebanyak 78 sumur sudah selesai di bor hingga akhir Agustus 2019. Sedangkan target WP&B hingga Agustus 2019 adalah 71 sumur. 

Sementara tingkat produksi pada Juli 2019 adalah sebesar 700 MMscfd (wellhead), yang telah bertahan sejak Februari 2019 dan akan terus dipertahankan hingga akhir tahun. 

Sejauh ini Pertamina telah berhasil menahan laju penurunan produksi Mahakam dengan performa yang lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya, yakni sebesar 686 MMscfd (2% lebih tinggi) di tahun 2019.

"Pertamina menyadari bahwa agar WK Mahakam terus tumbuh dan berkelanjutan maka pengembangan teknologi adalah kata kunci untuk membuka potensi baru, teknologi juga terbukti mampu memangkas berbagai biaya operasi di tengah penurunan produksi alamiah," pungkasnya. (***)


share on: