Ribut-ribut soal Dinasti, Andi Faiz : Kalau persoalan Bontang Bisa saya selesaikan dalam mimpi, kenapa harus di Meja Makan!

share on:
Andi Faisal Sofyan Hasdam (jas hitam/baris ketiga dari kiri) didampingi kedua orangtuanya, Walikota Bontang, Neni Moerniaeni (kebaya merah) dan Andi Sofyan Hasdam (jas hitam/kedua dari kanan) 

 

UPDATE.BONTANG,- Politikus partai Golkar, Andi Faisal Sofyan Hasdam resmi dilantik sebagai Ketua DPRD Bontang, Jumat (4/10)  pagi. 

Pemuda kelahiran Ujung Pandang, Sulawesi Selatan 35 tahun silam itu dilantik bersama dua Wakil Ketua DPRD terpilih, yakni Junaedi dari PKB dan Agus Haris dari partai Gerindra.

Menariknya, pria yang akrab disapa Andi Faiz ini merupakan putra kedua dari Neni Moerniaeni, Walikota Bontang periode 2016-2021 berpasangan dengan Basri Rase. Neni juga saat ini tercatat sebagai ketua DPD II Golkar Bontang. 

Ayah Andi Faiz adalah Andi Sofyan Hasdam, Walikota Bontang dua periode (2001-2011). Sofyan Hasdam sebelumnya juga tercatat sebagai kader senior partai Golkar yang saat ini telah hijrah ke NasDem. 

Di era kekuasaan Sofyan Hasdam, tepatnya pada 2006-2011. Ibunda andi Faiz saat itu juga dilantik sebagai Ketua DPRD Bontang. Dengan demikian otomatis pasangan suami istri eksekutif dan legislatif di Bontang.

kondisi itu kemudian dinilai oleh publik sebagai dinasti. Kala itu berbagai kalangan masyarakat beranggapan bahwa urusan Bontang terselesaikan di kamar tidur.

Hampir sepuluh tahun berlalu, kondisi itu terulang kembali, bedanya antara ibu dan anak, mamun masih konteks keluarga yang sama. Lagi-lagi publik kembali menganggap urusan Bontang diselesaikan di meja makan.

Disinggung soal anggapan tersebut, Andi Faiz menanggapi dengan santai. "Kalau bisa diselesaikan dalam mimpi, kenapa mesti di meja makan," ujar Andi Faiz kepada awak media beberapa waktu lalu di kediamannya. 

Menurut Andi Faiz, kondisi saat ini berbeda ketika zaman ayahnya menjabat walikota dan ibunya maju sebagai ketua DPRD. Ia menganggap bahwa peruntukannya di DPRD sebagai jalan Tuhan. Sebab, tidak pernah berpikiran ataupun berambisi menjadi ketua. 

"Itu pun saya maju DPRD karena dorongan masyarakat jadi semua saya jalani aja. Dan keputusan memilih ketua DPRD itu kan rananya DPP. Memang dari segi perolehan suara kebetulan saya yang tertinggi dan membawa dua kursi di partai," ucapnya. 

Kendati demikian, Andi Faiz tetap menepis anggapan publik soal dinasti politik apalagi timbul kesan main mata soal penganggaran. Andi Faiz berpendapat bahwa posisi antara legislatif dengan eksekutif adalah mitra.

"Mau ibu dengan anak atau siapapun, DPR dengan pemerintah harus bermitra kerja. Namanya bermitra hubungan harus baik," lanjutnya.

Ia menilai tolak ukur keberhasilan seorang pemimpin lembaga legislatif ketika fungsi penganggaran, controlling, dan legislasi di DPRD berjalan dengan baik.

"Jadi, kalau saya memiliki hubungan baik dengan pemerintah dalam konteks mitra kerja artinya saya berhasil sebagai pimpinan DPRD," tutupnya. (Sena).


share on: