Kisah Penemuan Mbah Zahra, Hingga Berdirinya Panti Jompo Al-Maghfiroh

Mbah Zahra (kiri) bersama beberapa manula Panti Jompo Al-Maghfiroh (dok.FJB)

UPDATEINDONESIA.COM- Panggilannya Mbah Zahra, tak ada yang tahu pasti berapa usianya. Bahkan dia sekalipun sudah tidak mengingatnya. Namun, dialah cikal-bakal berdirinya Yayasan Ponpes Manula Al-Maghfiroh pada tahun 2012 silam.

Konon, pendiri Panti Jompo Al-Maghfiroh, Mariasih awalnya menemukan Mbah Zahra terlantar tanpa identitas di dekat pasar Loktuan, Bontang, Kalimantan Timur.

Merasa prihatin, Mariasih membawa Mbah Zahra ke salah satu panti Jompo di Samarinda. Namun ditolak karena dianggap sudah tidak bisa mandiri.

“Kami menginap dua malam disana sambil belajar mengurus manula,” kata Mariasih yang kebetulan saat itu menyambut kedatangan pengurus FJB (Forum Jurnalis Bontang) yang merayakan HUT ke-4 tahun bersama penghuni Al-Maghfiroh, Sabtu (13/6) sore.

Karena ditolak, Mariasih membawa Mbah Zahra kembali ke Bontang. Bingung mencari tempat penitipan, Mariasih berkonsultasi ke sejumlah tokoh agama. Maklum, kala itu Mariasih aktif di organisasi keagamaan.

Berkat dukungan pemuka agama dan restu dari sang suami, Mariasih akhirnya memutuskan untuk mendirikan Yayasan Ponpes Manula Al-Maghfiroh di Pos 7 Kelurahan Loktuan, Bontang pada tahun 2012.

Kurang lebih dua tahun berselang, karena keterbatasan lahan, Mariasih memindahkan Yayasan Al-Maghfiroh ke Jalan Poros Bontang-Sangatta. Tepatnya, di kilometer 10, RT 8, Dusun Kemuning, Desa Martadinata, Kecamatan Teluk Pandan. Sekitar 30 meter dari jalan raya.

“Kebetulan, saya memiliki lahan pertanian seluas 20 x 200 meter persegi disini,” ucap perempuan berkacamata itu. Kini 1,5 hektar dari luas lahan pertanianya telah dihibahkan ke Yayasan Al-Maghfiroh.

Ia pun harus kembali bolak-balik mengurus akta domisili. Kini, Yayasan itu telah memiliki empat bangunan yang dikelilingi pepohonan dan sayur-mayur. Beberapa jenis burung dan hewan ternak pun ada di sana.

Banguanan utama khusus untuk tempat tinggal manula perempuan, satu lagi untuk manula pria. Sementara dua banguanan yang  belum selesai dikerjakan untuk Musala dan para relawan.

“Kebetulan, saat ini ia dibantu empat orang relawan,” lanjutnya. Selain manula, Panti Jompo ini juga menampung anak-anak korban perceraian.

“Dari sembilan orang manula yang ada disini, tujuh orang dari Bontang, selebihnya warga Kutim," jelasnya. Sedangkan anak korban perceraian yang disekolahkan sebanyak dua orang.

Ditanya dari mana biaya perawatan maupun kebutuhan hidup sehari-hari, “Dari Allah SWT,” jawab Mariasih. Hanya biaya rumah sakit yang ditanggung oleh LAZ Baiturrahman PKT. “Alhamdulillah belum pernah tersentuh bantuan dari Pemerintah,” tambahnya.

Hingga saat ini, Mariasih belum mengetahui dimana keluarga Mbah Zahra berada. Akan tetapi, terlepas dari persoalan tersebut, Mbah Zahra masih terlihat bugar. Walau penghilatan sudah samar serta tubuh harus ditopang kursi roda, tetapi mulutnya selalu berdzikir. 

“Itu cerita cikal-bakal berdirinya Yayasan Ponpes Manula Al-Maghfiroh,” terang Mariasih. (*/rus)