
UPDATEINDONESIA.COM – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menghadirkan inovasi di bidang energi terbarukan melalui mengembangkan teknologi pengolahan kelapa sawit menjadi bahan bakar alternatif berupa biogasolin atau bensin nabati rendah emisi.
Dilansir dari situs resmi ITS, riset ini dipimpin oleh dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS, Hosta Ardhyananta, bersama timnya, dengan dukungan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit.
“Fokus utama penelitian ini adalah mengonversi minyak mentah kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) menjadi bahan bakar siap pakai yang lebih efisien dan ramah lingkungan,” kata Hosta Ardhyananta pada 7 Aptil 2026.
Dalam prosesnya, tim ITS menggunakan metode catalytic cracking, yaitu teknik pemecahan molekul besar menjadi molekul yang lebih kecil menggunakan katalis. Pada tahap awal, proses ini menghasilkan konversi biogasolin sekitar 60 persen dengan suhu operasi mencapai 420 derajat Celsius.
Pengembangan lebih lanjut dilakukan dengan menghadirkan katalis bimetal berbasis nikel oksida (NiO) dan tembaga oksida (CuO). Kombinasi ini bekerja secara sinergis dalam memutus rantai karbon dan menghilangkan kandungan oksigen.
Hasilnya, efisiensi proses meningkat signifikan, ditandai dengan penurunan suhu operasi menjadi 380 derajat Celsius serta kenaikan rendemen biogasolin hingga 83 persen.

Peneliti dari ITS Dr Eng Hosta Ardhyananta ST MSc saat memamparkan proses dan hasil produksi Benwit dengan metode temuannya di hadapan awak media
Produk yang dihasilkan didominasi hidrokarbon rantai pendek (C5–C11), yang merupakan komponen utama bensin komersial. Selain itu, inovasi ini juga mengusung konsep minim limbah.
Produk samping berupa gas dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar pemanas reaktor, sementara residu cair berpotensi digunakan sebagai bahan bakar alternatif lain, seperti untuk kompor.
Tak hanya unggul dari sisi teknis, penelitian ini juga mempertimbangkan life cycle assessment (LCA) yang menunjukkan jejak karbon produksi biogasolin dari sawit relatif rendah. Hal ini menjadikan teknologi tersebut sejalan dengan prinsip energi bersih dan berkelanjutan serta mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya energi bersih dan konsumsi bertanggung jawab.
Rektor ITS, Bambang Pramujati, menyatakan bahwa inovasi bensin sawit atau “Benwit” berpotensi membantu pemerintah dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
“Ini menjadi peluang bagi pemerintah untuk mengembangkan sumber energi alternatif di tengah ancaman krisis bahan bakar global,” ujarnya.
Saat ini, teknologi tersebut telah diimplementasikan pada mesin-mesin pertanian yang dinilai lebih fleksibel dalam penggunaan bahan bakar alternatif. ITS juga telah melakukan uji coba pada kendaraan bermotor agar dapat digunakan secara lebih luas.
ITS berharap inovasi ini tidak hanya mendorong kemandirian energi nasional, tetapi juga membantu menekan ketergantungan terhadap impor minyak serta menjawab tantangan transisi menuju energi hijau di Indonesia.
Biogasoline adalah bahan bakar yang berasal dari sumber nabati (seperti sawit), dengan karakteristik mirip bensin biasa. Kandungan utamanya adalah hidrokarbon rantai pendek (C5–C11), yang juga terdapat pada bensin komersial. (*)

Proses uji coba implementasi Benwit dengan percobaan pencampuran BBM pada sepeda motor konvensional