Penulis : Shita Ummu Bisyarah
Islam itu bagai benih yg sempurna, bila ditanam dengan baik maka ia akan tumbuh menjadi pohon rindang, berbuah lebat yang akan memberi manfaat hebat bagi siapapun yg membutuhkannya. Akarnya menembus kuat ke bumi daunnya rindang menjulang tinggi ke langit menaungi siapapun yg melewatinya. 95 tahun lalu semenjak runtuhnya daulah Khilafah pada 3 Maret 1924 oleh antek inggris Mustafa Kamal Attaturk laknatullah, penjajah semakin kuat menancapkan cakarnya di negri - negri kaum muslim. Mereka mulai mematikan akal sehat umat, propaganda demi propaganda mereka gaungkan demi merusak citra islam. Tak lain adalah islam itu identik dengan teroris, penjajah, penyebab kemunduran, kumuh, angkuh, egois dan lain sebagainya.
Berbagai macam stereotip negatif muncul yg membuat orang tidak memandang islam secara menyeluruh, melainkan hanya prasangka. Orang bercadar dan berjenggot atau identitas islam lainnya mulai dikriminalisasi. Peristiwa demi peristiwa mulai direkayasa untuk memperparah phobia ini, mulai dari bom bali 2002, peristiwa 9 september di WTC, hingga isu ISIS yang mencitra burukkan ide Khilafah. Akhirnya terjadi labeling pembela islam disebut fundamental atau ormas islam yg tegas menyuarakan kebenaran islam dianggap radikal bahkan anti NKRI tanpa ada tabayyun (klarifikasi). Padahal sejatinya mereka ingin menyelamatkan NKRI dari penjajahan.
Tuduhan keji bahwasannya islam adalah penjajah salah satunya disemburkan oleh Cornelis yang merupakan mantan Gubernur Kalimantan Barat dengan menyamakan Islam dengan penjajahan Belanda yang berlangsung 3,5 abad [ www.viva.co.id (4/07/18) ]. Futuhat yang dilakukan oleh sebaik-baik panglima perang Muhammad Al Fatih dikatakan sebagai penjajahan sadis tak manusiawi dengan berbagai pembantaian seolah umat islam tak punya hati. Perebutan kembali Al-Quds oleh Salahuddin Al Ayubi tak luput dari pemelintiran sejarah seolah umat islam gila kekuasaan dan membantai sana sini. Futuhat-futuhat lain yang dilakukan oleh ke kehilafahan islam dipelintir menjadi peperangan bengis tanpa ampun. Akhirnya terjadilah stigma negatif tentang futuhat dan jihad. Seolah - olah dua hal tersebut adalah momok yang menakutkan bahkan haram untuk diceritakan.
Benarkah demikian? Benarkah umat islam adalah umat bengis yang gila perang dan kekuasaan? Penjajah ulung yang merampas harta umat lain? TIDAK !!! Bila kita membaca stigma negatif diatas akan kita dapati bahwa itu adalah labeling tak beralasan, alias tidak ada data valid atau sumber sejarah terpercaya yang memberitakannya. Isu tersebut bersumber dari akal yang tak waras yang hanya mengedepankan perasaan saja tanpa mencari kebenaran yang pasti. [11/3 12.08] Nmr Ku: Bisa dipastikan orang yang ketakutan dengan syariat islam dapat dikelompokkan menjadi 3 golongan :
1. Orang yang belum paham secara benar dan jelas tentang syariat islam
Golongan pertama ini sangat banyak baik orang islam itu sendiri maupun non muslim. Framing media yang menyudutkan islam ditambah penyakit Wahn (cinta dunia takut mati) membuat orang malas mempelajari islam dan mencari kebenaran islam karena disibukan dengan duniawi. Akal sehat mulai hilang dan maklumat yang mengisi otak mereka adalah maklumat buruk plintiran media sehingga terjadilah gelombah islamophobia ini.
2. Antek Penjajah
Orang - orang ini bisa dikatakan kaum munafik yang terpincut duniawi, memelintir hukum - hukum islam demi sesuap nasi dan sebongkah berlian, serta sejumput kepentingan tuannya. Bahkan golongan ini adalah para intelektual, ulama atau bahkan pemimpin negeri. Bisa kita saksikan di Indonesia mulai bermunculan kaum munafik ini. Menentang Allah dengan meremehkan bahkan menentang aturan-Nya yang jelas ada dalam Al quran. Menghapus kata dalam al - quran (kafir) bahkan menempeleng orang yang menyebut kafir. Melarang poligami karena tak adil dalihnya, mempersekusi umat islam yang menyuarakan ide khilafah tanpa kekerasan sedikitpun.
3. Penjajah itu sendiri
Golongan ini bisa dikatakan pengecut, karena mereka tak berani unjuk muka dan menggunakan cara - cara licik hingga umat mengiranya teman. Padahal tuduhan itu sangat jauh dari fakta islam itu sendiri. Tidak ada dikatakan dalam sejarah bahwa islam adalah agama penjajah. Bahkan islam selalu menyuntikkan semangat perjuangan untuk terlepas dari cengkraman penjajah., dan berdiri berdikari untuk memajukan negeri sesuai fitrahnya yakni dengan aturan sang Pencipta. Setiap futuhat yang dilakukannya selalu memberi kesan bahagia terhadap warga yang negaranya difutuhat (ditaklukkan), serta menjadikan negara tersebut semakin maju hingga menjadi puncak peradaban dunia.
Lihat saja bagaimana ketika kota Baghdad difutuhat kaum muslimin. Baghdad pada abad ke 7 yang merupakan kota terbelakang terletak di daerah yang sempit dan kecil disulap oleh khalifah Al-Mansur menjadi kota paling maju di zamannya yang merupakan ibu kota kekhalifahan abbasiyah dan melahirkan ribuan ulama ' dan para intelek dengan mendatangkan arsitek, insinyur teknik dan pakar ilmu ukur yang jumlah pekerjanya mencapai 100.000 orang dan menghabiskan biaya 4.8 juta dirham.
Lihatlah bagaimana cordoba, kota kecil di eropa yang saat itu sangat terbelakang dan kumuh disulap menjadi kota indah yang diterangi lampu - lampu dan taman yang indah dan yang pasti juga banyak para ulama yang lahir disana. Lihat juga maroko, negeri tandus nan gersang yang disulap oleh peradaban islam sebagai negeri dimana didirikan universitas pertama di dunia oleh seorang muslimah bernama Fatimah Al Fihri yang merupakan universitas terkemuka di bidang alam.
Lihatlah Indonesia, dalam buku Kerajaan Islam Demak, “Api Revolusi Islam di Tanah Jawa” digambarkan bagaimana perjuangan rakyat yang ingin merdeka dari lilitan penjajah Eropa yang menyengsarakan rakyat, khususnya Portugis. Pada saat perjuangannya, mereka memiliki hubungan yang erat dengan Kekhilafahan Turki Utsmani. Kekhilafahan Turki Utsmani pun banyak berperan aktif dalam perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah.
Lihatlah sungguh jauh berbeda antara futuhat kaum muslim dengan penjajahan ala barat. Futuhat memiliki visi dakwah dan jihad. Menyebarkan islam ke seluruh penjuru dunia, hingga tidak ada satupun orang yang tak merasakan indahnya islam. Dan sungguh ketika islam diterapkan di suatu negeri maka negeri itu akan menjadi negeri yang mulia, sejahtera dan merupakan mercusuar dunia. Hal ini terbukti saat islam diterapkan selama 14 abad dalam naungan institusi Khilafah dan hal ini merupakan bukti sejarah yang tak bisa disembunyikan ketika islam menjadi rahmat seluruh alam, tak hanya untuk kaum muslim.
Kesaksian non muslim terhadap khilafah juga disampaikan oleh Thomas Walker A : “....kaum Calvinis Hungaria dan Transilvania serta Negara Utaris (Kesatuan) yang kemudian menggantikan kedua negara tersebut juga lebih suka tunduk pada pemerintah Turki daripada berada dibawah pemerintahan Habsburg yang fanatik: kaum protestan Silesia pun sangat menghormati pemerintah Turki dan bersedia membayar kemerdekaan mereka dengan tunduk pada hukum Islam... kaum Cossack yang merupakan penganut kepercayaan dan selalu ditindas oleh Gereja Rusia, menghirup suasana toleransi dengan kaum Kristen dibawah pemerintahan Sultan”.
Hal ini sangat berbeda jauh dengan penjajahan ala kapitalis. Tak dipungkiri bahwa penjajahan meniscayakan negeri jajahannya menjadi negeri yang bodoh, terbelakang dan tertindas. Visi dari penjajahan adalah memperkaya penjajah dan mengeruk habis kekayaan bumi negeri jajahan serta metode baku untuk menyebarkan ideologi kapitalis.
Sungguh islam adalah agama mulia dan memuliakan, tak pernah ada ajaran islam yang akan merusak. Justru dengan dakwah dan jihad akan menghilangkan kegelapan dan keterpurukan dunia akhirat. Memberi rahmat kepada seluruh alam.
Jadi, ayo gunakan akal sehat, jangan lagi phobia apalagi tersesat!

Ilustrasi