Opini : Kembalikan Fitrah Kasih Sayang Ibu

Ilusrasi

Penulis : Shita Ummu Bisyarah (Pemerhati Keluarga)

 

Peran Ibu
    Ibu itu bagai sang surya, cahayanya menyinari setiap sudut dunia. Hangatnya menembus jiwa – jiwa yang dingin, menghangatkan serta menenangkan. Setiap foton yang dipancarkan dengan kecepatan 8 menit 20 detik membuat organisme di bumi tetap tumbuh, menjulang menebar manfaat bagi semua yang ada di bumi. Begitulah ibu, penuh kasih sayang, menahan sakit dan sulitnya mengandung hingga melahirkan. Lalu dengan sabar menyusui anaknya dengan penuh lantunan doa dan jutaan harap agar anaknya menjadi jiwa – jiwa penebar manfaat. Mendidik dan membesarkan sang buah hati dengan penuh kehangatan. Walau kadang sang buah hati tak bisa dengan jelas melihat sang surya, tapi dia bisa senantiasa merasakan kehangatannya. Ibu memikul beban berat di pundaknya, tugas peradaban untuk mendidik dan membina generasi penerus bangsa.

Iya.. itulah ibu yang tak kan habis sejuta kata dan kan teramat panjang puisi untuk menceritakan dirimu.
 

Fitrah Ibu Kini Tergerus
    Namun sang surya kini tak lagi menghangatkan, namun justru malah membakar. Tak ada lagi lapisan ozon yang melindungi bumi karena dirusak. Sama halnya dengan fitrah ibu, kini hilang tergerus hingga ibu tak lagi penuh kasih sayang. Ibu tak lagi menjadi sang surya, tapi berubah menjadi monster mengerikan yang justru merusak generasi penerus. Pemandangan yang lazim kita saksikan bagaimana ibu sekarang marah – marah tak terkendali kepada sang buah hati yang sejatinya tak mengerti untaian sajak yang keluar dari mulut sang ibu. Bahkan tak cukup dengan itu, tangan yang haluspun tak jarang menjadi alat pemukul, mencubit bahkan hingga membunuh sang buah hati hingga tak sedikit kasus kekerasan kepada anak yang pelakunya adalah ibunya sendiri. Lihat saja data dari KPAI mencatat bahwa 73,7 % anak Indonesia mengalami kekerasan di rumahnya sendiri dan ibu menempati peringkat pertama dalam kasus kekerasan pada anak yakni sebanyak 44% dari total kasus ( www.tirto.id 13/09/2018 ). Sungguh miris melihat fitrah kasih sayang sang ibu tergerus.


    Lihatlah betapa sedikit saja kesalahan yang dilakukan oleh ibu bisa menjadi bom waktu yang menyebabkan kerusakan – kerusakan lain bermunculan. Anak dengan innerchild ( pola asuh masa kecil) yang salah dan memunculkan trauma akan sangat rentan sakit psikis sehingga akan muncul banyak kasus kenakalan remaja. Seperti tawuran, penggunaan narkoba dan miras, hubungan seks pra nikah yang kemudian berimbas pada aborsi, tindak kriminal, dan sebagainya. Parahnya setiap tahun kasus – kasus ini angkanya semakin meningkat. Lihat saja data KPAI mencatat kasus tawuran di Indonesia meningkat 1,1 % sepanjang 2018 ( www.metro.tempo.co  12/09/2018). Data UNICEF tahun 2016 menunjukkan bahwa kekerasan pada sesama remaja di Indonesia diperkirakan mencapai 50 %. Sedangkan dilansir dari data Kementerian Kesehatan RI 2017, terdapat 3,8 persen pelajar dan mahasiswa yang menyatakan pernah menyalahgunakan narkotika dan obat berbahaya. ( www.fk.ugm.ac.id 14/03/2018). Miris bukan? Lalu pertanyaan selanjutnya mengapa semua ini terjadi?. Mengapa ibu yang penuh kasih sayang sebagai pendidik generasi menjadi monster perusak generasi?
 

Faktor Ekonomi Yang Semakin Mencekik
    Tak bisa dipungkiri hari ini ibu tertekan dari berbagai arah. Faktor ekonomi disebut sebagai faktor yang paling dominan menjadi penyebabnya. Gagalnya negara dalam menjamin kesejahteraan rakyatnya menyebabkan himpitan ekonomi kian terasa terutama oleh kaum ibu. Mau tidak mau hal ini menyebabkan sang tulang rusuk terpaksa ikut terjun menjadi tulang punggung. Ibu dipaksa untuk bekerja membantu sang suami memenuhi kebutuhan keluarga, karena gaji sang suami saja tak cukup memenuhi kebutuhan hidup yang semakin hari semakin mencekik. 


Ditambah lagi dengan adanya inflasi, kenaikan harga-harga kebutuhan pokok dirasa tak lagi sebanding dengan kenaikan upah dan pendapatan yang diterima oleh golongan warga negara menengah kebawah. Di pemerintahan Jokowi proteksi dan subsidi dicabut satu per satu secara terang – terangan, akses kesehatan pun semakin mahal dan sulit melengkapi raport merah pengelolaan program BPJS. Pemerintah juga gagal menciptakan iklim perpajakan yang sehat, dimana orang yang kaya diberlakukan tax amnesty sedangkan rakyat miskin tanpa ampun terus dipajaki. Pendidikan pun yang harusnya menjadi hak warga negara semakin tahun semakin mahal bahkan hamper tak terjangkau oleh orang miskin, sampai muncul slogan “orang miskin dilarang pintar”. Tak dipungkiri keadaan ini membuat setiap keluarga kelimpungan mencari uang, tak hanya sekedar memenuhi kebutuhan pokoknya, tapi juga ingin anak – anak mereka mengenyam pendidikan dan kesehatan yang layak tak seperti orang tuanya. Iya, tulang rusuk kini telah menjadi tulang punggung…


    Sejatinya bekerja bukanlah fitrah seorang ibu. Semua ibu itu fitrahnya sama yakni ingin mendampingi setiap detik tumbuh kembang anaknya, mencurahkan seluruh kasih sayangnya untuk mendidik dan membimbing sang buah hati mempersiapkan masa depannya.  Saya yakin dari lubuk hati ibu yang paling dalam, kalau boleh memilih ibu akan lebih memilih mendidik anak – anaknya ketimbang membanting tulang mengumpukan pundi – pundi rezeki untuk melanjutkan hidup esok hari sementara anak – anak mereka bersama orang lain yang hanya bisa mengasuh bukan mendidik. Kalau pun toh mereka memilih berkarir, pasti tujuan mereka tak hanya sekedar ekonomi, tapi ada misi besar peradaban yang mereka bawa.


Pengaruh Faktor Lain
    Tak hanya dari segi ekonomi. Tekanan ang dialami oleh ibu adalah tekanan yang sistematis dan terstruktur. Pasalnya dari segi media masa ibu juga ditunjukkan dengan tayangan – tayangan yang melenakan. Media memframing ibu dengan gambaran rumah tangga yang indah ala barat yang merupakan imajinasi sang pembuat film. Digambarkan sosok suami yang romantis dan serba peka bisa membaca pikiran istri, istri diperlakukan bak ratu di kerajaan. Hal ini mencabut ikhlas, syukur sang ibu dan mempermainkan akal sehatnya. Ekspektasi ibu rumah tangga adalah seperti gambaran sinetron tersebut, padahal rumah tangga sejatinya adalah perjuangan tiada henti yang pasti melelahkan. Sehingga ibu melampiaskan kemarahannya kepada sang anak. Dipicu lagi dengan tayangan kekerasan pada anak yang beraneka ragam. Membuat ibu spontan melakukannya karena adanya maklumat. Dan kita tahu bahwa bila terjadi kekerasan pada anak maka anak akan cenderung melakukannya kepada anaknya karena adanya trauma psikis yang mendalam. Akan ada respon eror apabila ada pantikan yang mengingatkan pada kekerasan tersebut. Hal ini menyebabkan kekerasan anak akan beranak pinak dan turun menurun ke generasi selanjutnya karena innerchild mereka masih bermasalah dan belum sembuh.
 

Akar Masalah
    Jika kita analisa mendalam, semua masalah ini bukanlah masalah sepele yang hanya bersumber dari faktor ekonomi ataupun media saja. Tetapi masalah ini adalah masalah sistemik, yakni akibat diterapkannya sistem kehidupan yang juga tak sesuai dengan fitrah manusia khususnya ibu. Sistem yang kita pakai hari ini adalah sistem demokrasi kapitalis. Kita tahu bahwa kapitalisme dari lahir sudah cacat, yakni lahir dari pemikiran manusia ( Adam Smith) yang merupakan jalan tengah antara Rakyat yang ditindas dan dikekang kebebasannya dengan pihak gereja. Singkat kata dalam teori dan praktiknya, ideologi kapitalisme menerapkan sistem keindividuan. Sektor ekonomi dikuasai oleh pihak-pihak swasta dan meniscayakan adanya pasar bebas. (www.wawasansejarah.com) orang kaya alias pemilik modal akan semakin kaya dan orang miskin akan semakin tertindas. Terlihat sekali penerapannya di Indonesa, ekonomi dikuasai hanya segelintir orang terlihat dari rasio gini Indonesia per September 2018 yakni 0.384 (www.bps.go.id). 


  Kapitalisme juga memandang bahwa perempuan adalah komoditi yang memiliki nilai ekonomi tinggi, karena selain dia telaten juga pesonanya dapat menjadi daya tarik konsumen, sehingga tak jarang kita lihat sebagian besar pekerja di swalayan ataupun iklan – iklan produk adalah perempuan yang telah dieksploitasi, dipamerkan apa yang seharusnya tak boleh untuk diumbar. Kapitalisme telah menanamkan paham feminisme yang mengagungkan slogan kesetaraan gender dimana perempuan juga bisa seperti lelaki ( terutama dalam berkarir). Hal ini menyebabkan perempuan lebih memilih mengejar karir dan meninggalkan kewajibannya sebagai ibu pengatur rumah tangga dan pendidik generasi. Ibu rumah tangga di framing sebagai profesi yang sangat kuno dan norak, bukan lagi mulia. Sehingga ada gengsi yang besar ketika wanita hanya menjadi ibu rumah tangga. Begitulah bagaimana kapitalisme meracuni pemikiran ibu.


Solusi
    Permasalahan ini tak bisa dibiarkan begitu saja, karena bila dibiarkan bisa menjadi bom waktu yang bila meledak akan menyebabkan punahnya peradaban manusia. Sebut saja di negara – negara maju sekarang ini. Tiga orang pakar sosiologi Amerika Serikat, yakni Profesor Sosiologi Dudley Poston dari Texas A&M University, Profesor Kenneth Johnson dari University of New Hampshire, dan Profesor Layton Field dari Mount St. Mary's University, baru saja menyelesaikan studi komprehensif mengenai kependudukan di Eropa dan Amerika Serikat. Mereka menemukan bahwa 58 % dari 1391 negara di Eropa, punya angka kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan angka kelahiran. Bahkan di jepang pemerintah memaksa wanita Jepang untuk hamil (www.cnnindonesia.com). 


    Solusi yang penulis tawarkan yakni merupakan solusi sistemis melihat bahwa akar masalahnya adalah penerapan sistem yang salah yakni sistem kapitalisme, maka solusinya tidak lain dengan mengganti sistem yang salah tersebut. Lalu pertanyaan selanjutnya diganti dengan sistem apa?. Dalam sejarah peradaban manusia tidak ada sistem yang memuliakan ibu selain sistem islam. Dalam penerapannya sama sekali sejarah diskriminasi ataupun eksploitasi terhadap perempuan. Ada jaminan syar’i kepada perempuan untuk terpenuhi kebutuhan hidupnya, tidak seperti kapitalisme. Islam tidak melarang perempuan untuk berpendidikan tinggi ataupun berkarir di ranah publik dengan batasan bukan menduduki formasi/jabatan kepemimpinan. Sebut saja Maryam Al Asturlabi, seorang perempuan ilmuan penemu astrolabe (cikal bakal system nafigasi seperti Satelit, GMaps dll) tercanggih pada masanya, atau Syifa binti Sulaiman yang pada masa Umar bin al-Khaththab menjadi seorang Qadhi Hisbah ( hakim yang bertugas mengadili  terhadap pelanggaran hak – hak masyarakat )  membuktikan bahwa dalam Islam, tidak ada diskriminasi perempuan untuk mencari, mempelajari maupun mengkaji ilmu pengetahuan. Bahkan justru negara memfasilitasi pendidikan secara gratis dengan kurikulum terbaik dan dapat diakses oleh seluruh kalangan.