OPINI : Ketika Takut Terhadap Allah Menjadi Blunder

Ilustrasi

Oleh : Wida Ummu Aulia ( Pemerhati Masalah Sosial )

Perhelatan akbar pemilu 2019 kian dekat. Situasi politik pun kian panas. Berbagai upaya bahkan dilakukan demi meraih suara rakyat. Salah satunya adalah dengan upaya untuk menghapus mindset negatif masyarakat terhadap pribadi pasangan calon pilpres. Hal ini tampak dalam acara debat capres yang digelar senin malam 18/2/2019.

Hal senada diungkapkan oleh pakar ekspresi dan gestur Handoko Gani bahwa debat kedua memang digunakan dua capres untuk menghapus segala image negatif. Handoko menilai capres nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) coba menghapus image negatif berupa image di setir, plin plan hingga takut.

"Kelihatan jelas arah pada debat kali ini, yaitu penghapusan  image yang merugikan. Jokowi lebih kerap menyebut 'rakyatku', di image terakhir menyebut 'tidak ada yang saya takutkan selain Allah SWT'." kata Handoko Gani saat dihubungi detikcom, Senin (18/2/2019).

Sontak saja pernyataan Jokowi tersebut mendapat bermacam respon dari masyarakat. Pernyataan “ tidak takut selain pada Allah” dinilai sangat kental dengan aroma pencitraan. Karena masyarakat masih ingat ketika Jokowi mengeluarkan Perppu ormas untuk membubarkan sebuah ormas Islam yang bergerak dibidang dakwah. Hanya karena kegigihan ormas tersebut dalam menyampaikan syariah dan Khilafah. Apa saat itu dia belum takut pada Allah sehingga berani menghadang dakwah dan berani mengkriminalisasi aktivis yang mendakwahkah syariah dan Khilafah yang merupakan ajaran Islam?

Kemudian juga saat menjadi presiden, utang luar negeri semakin besar. Padahal utang tersebut memakai riba. Dia juga membiarkan bank riba tumbuh subur di negeri yang dipimpinnya. Padahal itu sama saja menantang perang terhadap Allah. Apa gak takut?

Belum lagi zina yang dibiarkan marak terjadi karena tidak memberikan tindakan tegas terhadap pelakunya. Membiarkan konten porno mudah diakses. Membiarkan porno aksi menjadi tontonan melalui televisi dan internet. Padahal itu sama saja mengundang azab Allah. Apa gak takut?

“Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri “ (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani)

Lalu apa sebenarnya maksud dari pernyataan “ hanya takut pada Allah “? Kalau secara fakta malah melakukan tindakan yang jelas menentang Allah. Hakikat takut pada Allah adalah mentaati semua perintah Nya dan menerapkan semua aturan Nya. Bukan malah melanggar hukum syara yang merupakan aturan-Nya.

Sejatinya takut pada Allah adalah kewajiban bagi setiap mukmin. Sehingga tak layak hanya diucapkan. Namun harusnya terbukti dari perbuatannya.

Allah SWT berfirman:

“ Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga murah. Barang siapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir." ( QS. Al Maidah 44 )

Masyarakat yang sudah cerdas tidak akan susah membedakan antara orang yang sungguh-sungguh takut terhadap Allah dengan orang yang hanya mengucapkan itu sekedar lips service untuk memperoleh suara. Maka ketika rasa takut terhadap Allah menjadi blunder karena sengaja menggunakan nama Allah untuk menipu umat, tunggulah perhitungan dari Allah sebagai balasannya.