OPINI : Menggugat Rezim Ingkar Janji

Tahun ini Indonesia bakal menggelar acara besar yang akan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Mulai dari kota besar sampai ke pedesaan terpencil wilayah tanah air yaitu pemilihan legislatif dan presiden yang menghangatkan bahkan memanaskan suhu dunia politik.

Setiap calon menyampaikan apa yang menjadi visi, misi dan juga janji untuk meyakinkan masyarakat agar caleg maupun capres mampu menarik perhatian dan simpati untuk  memilihnya. Meskipun seringkali dari setiap visi dan misi yang ditawarkan kerap di ingkari oleh mereka. Janji tinggalah janji sedangkan rakyat hanya bisa gigit jari.

Dalam pandangan idealis Plato, sejatinya kata-kata yang keluar dari mulut politisi adalah sarana mengembangkan kesadaran kemanusiaan untuk menyampaikan kebenaran dan keyakinan positif. Politisi adalah moralis “pemintal kata-kata”. Sedangkan menurut filsuf Perancis, Voltaire,”Politik adalah seni merancang kebohongan”.

Gambaran politik di negeri ini semakin sering diwarnai oleh perilaku para politisi yang mengumbar kata-kata persuasif, klise dan suka berbohong hingga menjadikan masyarakat awam tak mampu menentukan pilihan yang diharapkan dan pada akhirnya ada sebagian masyarakat memilih untuk golput lantaran kecewa karena seringkali dibohongi oleh mereka yang sudah terpilih. Misalnya saja berjanji akan mencetak 10 juta lapangan kerja (http://bisnis.liputan6.com/read/2072282?jokowi-janji-cetak-lapangan-kerja-jika-jadi-presiden). Kenyataannya gelombang PHK justru yang terjadi.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyatakan gelombang PHK di berbagai daerah sedang terjadi. Terdapat catatan KSPI terkait beberapa kasus PHK sepanjang tahun 2018. Dari catatan yang ada, total buruh yang di PHK mencapai 15 ribu lebih. Menurut dia tidak ada upaya yang sungguh-sungguh untuk menyelesaikan kasus-kasus PHK yang terjadi.

Berdasarkan catatan KSPI, sektor industri yang akan terancam meliputi garmen, tekstil, elektronik, otomotif, farmasi, industri baja, semen dan sebagainya. (Republika.co.id,15/1/2019).

Berjanji akan mengurangi bahkan tidak akan melakukan impor pangan (http://www.com/politik/5-janji-jokowi-perbaiki-ekonomi-indonesia-jika-jadi-presiden.html). Kenyataannya besar-besaran melakukan impor beras, garam, gula dan lain-lain hingga membuat petani merugi. Berjanji tidak akan menaikan harga BBM (http://m-merdeka.com/amp/peristiwa/jokowi-saya-tidak-pernah-menaikan-bbm.html). Kenyataannya harga BBM naik sampai 9 kali yang berakibat kepada kenaikan harga-harga barang dipasar yang pastinya memberatkan rakyat terutama dari kalangan menengah kebawah. (https://jakarta.tribunnews.com/amp/2018/10/10/4-tahun-menjabat-ini-11-catatan-kenaikan-dan-penurunan-harga-bbm-di-era-jokowi/page=2). Dan masih banyak lagi janji-janji yang telah membius jutaan rakyat yang hingga kini tidak terealisasi. Dan sungguh aneh jika masih ada yang membela bahkan mendukungnya melakukan kebohongan demi kebohongan.

Dalam pandangan Islam, penguasa diamanahi berbagai urusan dan kemaslahatan rakyat. Dia akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT di akhirat kelak atas amanah yang diemban dalam pengurusan berbagai urusan rakyat. Penguasa yang memahami tanggung jawabnya tentu akan sangat berhati-hati dalam semua tindakan, kebijakan dan ucapannya.

Dia tidak akan mudah menebar harapan dan janji. Sebab dia tahu semua itu harus dipertanggungjawabkan di akhirat, di hadapan Allah SWT. Menyadari kalau dia menjanjikan sesuatu tetapi tidak di tepati, pasti dia akan sengsara di akhirat. Jika dia menjanjikan akan melakukan sesuatu, namun nyatanya tidak dilakukan, atau menjanjikan tidak akan melakukan sesuatu, tetapi justru dia lakukan, niscaya dia tidak akan luput dari ancaman Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

«مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيْهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ وَهُوَ غَاشٍّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ»

Artinya : Tidaklah seorang hamba, yang Allah minta untuk mengurus rakyat, mati pada hari di mana dia menipu (mengelabui) rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan bagi dia surga (HR al-Bukhari dan Muslim).

Semoga siapapun yang akan memimpin negeri ini nantinya bukanlah pemimpin yang mudah mengobral janji namun pemimpin yang mampu untuk menerapkan hukum-hukum yang telah ditetapkan didalam Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah. Karena hanya dengan diterapkan aturan dari Al Mudabbir (Yang Maha Pengatur) inilah akan terwujud pemimpin yang diharapkan yang akan mengayomi seluruh lapisan masyarakat  dan tentunya yang tidak akan mengingkari janji yang sudah diucapkannya karena dia sadar kepemimpinannya itu adalah beban yang akan dia bawa hingga diakhirat kelak. Wallahu a'lam

 

Oleh : Yusi Wulandari (Anggota Akademi Menulis Kreatif)