Opini : Selama Khilafah Belum Ada, Umat Tidak Terjaga

(Foto-Dini Azra)

Oleh : Dini Azra

Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman(MBS) telah melakukan serangkaian kunjungan ke beberapa negara Asia. Setelah sebelumnya singgah di negeri India dan Pakistan, beliau juga berkunjung ke Cina, dan mengadakan pertemuan dengan presiden Cina Xi Jin Ping, Jum'at 22/2019. Dalam pertemuan itu keduanya menyepakati perjanjian terkait minyak, yang bernilai 10 Miliar dolar AS, atau sekitar 140, 5 Triliun rupiah. Selain juga kerjasama di bidang yang lain seperti pendidikan, dan keamanan. (Kompas.com 22/2/2019)

Kunjungan Pangeran MBS membawa angin segar dan harapan bagi minoritas muslim Uighur. kelompok-kelompok Uighur meminta dan mengharapkan bila Sang Pangeran yang kuat itu sudi mengangkat perjuangan mereka, karena sebagai kerajaan ultrakonservatif semestinya menjadi pembela hak-hak umat Islam diseluruh dunia.

Namun harapan itu seketika sirna, karena kunjungan Pangeran MBS ini sama sekali tidak terkait dengan pembelaan terhadap muslim Uighur. Melainkan, tujuannya hanya untuk memperkuat hubungan kedua negara, dan memuluskan ambisi keduanya dalam hal ekonomi. Cina masih mengejar proyek infrastruktur ambisius, Belt and Road. Disisi lain, Saudi Arabia juga tengah menggenjot  "Visi 2030" program MBS untuk melakukan diversifikasi ekonomi agar tidak tergantung pada minyak.

Demi tercapainya tujuan kerjasama antara dua negara, mustahil jika kedua pemimpin ini akan menyinggung permasalahan intern yang tengah terjadi di negara masing-masing. Alih-alih menyampaikan aspirasi dan perjuangan muslim Uighur, justru MBS menyatakan dukungan terhadap Cina untuk mengamankan negerinya. Kantor berita xinhua mengabarkan MBS menegaskan, jika negerinya amat mendukung upaya Beijing untuk mengamankan negerinya dan menentang intervensi kekuatan eksternal dalam urusan dalam negeri. (TribunJateng.com/22/2/2019)

“Cina memiliki hak untuk melakukan pekerjaan anti-terorisme dan ekstremisme untuk keamanan nasionalnya,” kata Bin Salman, yang telah menandatangani berbagai kesepakatan dengan pihak Cina.

Meskipun beliau tidak menyebut etnis Uighur dalam pernyataan tersebut, namun sudah diketahui bahwa selama ini pemerintah Cina telah menuduh minoritas di wilayah xinjiang barat itu sebagai pendukung terorisme sehingga harus diawasi dengan ketat. Tidak mungkin juga, jika beliau tidak mengetahui bahwa pemerintah Cina membangun kamp-kamp konsentrasi untuk melakukan re edukasi, terhadap saudara muslim Uighur. Dengan segala tindakan yang telah melanggar kemanusiaan, dan sudah menjadi pemberitaan dunia.

Ini menjadi bukti bahwa pemimpin-pemimpin negeri muslim pun memilih bungkam, tanpa pembelaan terhadap penderitaan saudara seakidahnya. Karena kepentingan nasional juga semangat nasionalisme, telah membutakan mata hati mereka, sehingga mereka malah tunduk dihadapan negara yang telah menumpahkan darah saudaranya. Dimana Cina sudah menjadi mitra dagang yang penting bagi Timur tengah beberapa tahun terakhir.

Perdana Menteri Pakistan misalnya, yang juga baru dikunjungi Pangeran Salman, menyatakan dia tidak tahu banyak tentang kondisi muslim Uighur. Begitupun presiden Turki Erdogan, meski pernah mengecam dan menyerukan penutupan kamp konsentrasi, tapi setelah itu justru menjalin hubungan diplomatik dan ekonomi lebih dekat dengan Beijing. Mereka semua tidak berani melakukan pembelaan, jika kondisinya bisa mengancam kepentingan nasional negaranya. Kitapun tahu bagaimana sikap pemerintah Indonesia dalam masalah ini, tak ada bedanya.

Inilah salah satu fakta urgensinya Khilafah untuk kembali tegak ditengah umat Islam. Karena semenjak runtuhnya kekhalifahan Utsmani Turki 3 Maret 1924 silam, umat Islam bagaikan anak ayam kehilangan induknya. Nyaris tanpa perlindungan, menjadi bulan-bulanan para kapitalis barat layaknya menyantap hidangan saja. Retaknya persatuan umat, menjadi hal yang tak terelakkan, dunia Islam dipaksa mengambil "nation state" sebagai pegganti pemerintahan Islam. Hingga mereka hidup berbangsa-bangsa, terpisah satu dengan lainnya. Ketika salah satunya teraniaya, saudara yang lain tak bisa membela dan menyelamatkannya. Hanya bisa menangis, mendoakan dan membantu sebisanya, bahkan banyak yang sudah mati rasa mengatakan "Itu bukan negara kita, kenapa kita ikut mengurusinya?"

Sedangkan para pemimpin kaum muslimin malah menjalin keakraban dan kemesraan dengan pihak penjajah yang aniaya. Demi uang, kekuasaan, dan egoisme kebangsaan mereka membuang rasa persaudaraan terhadap sesama. Dan selama dunia Islam masih bertahan dengan sistem yang ada sekarang, jangan berharap umat ini akan mendapatkan hak-haknya, yaitu perlindungan dan jaminan keamanan dari segala bentuk penindasan dan penjajahan.

Umat Islam membutuhkan sosok pemimpin sebagai perisai, yang akan menjaga darah dan kehormatannya dari musuh. Pemimpin itu adalah seorang Khalifah, didalam institusi negara bernama Khilafah. Yang akan merekatkan kembali persatuan umat, menghancurkan sekat-sekat nasionalisme ciptaan barat. Dan tentunya, akan meletakkan agama sebagai dasar dalam mengatur urusan bernegara. Karena dia berfungsi sebagai wakil Allah di muka bumi, untuk menjalankan syariat Nya.

Dalam pandangan Islam hukum itu hanya dibagi menjadi dua yaitu hukum Allah dan Hukum Jahiliyah ( buatan manusia). Maka bagi mereka yang menentang diterapkannya hukum syariat, tidak lain mereka itu golongan kafir, atau fasik. Sebagaimana telah dinyatakan dalam firmannya :

"Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka. Dan berwaspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayakan engkau terhadap sebahagian apa yang diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari apa yang diturunkan Allah), maka ketahuilah sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang yang meyakini (agamanya)?" (QS.Al-Maidah: 49-50).                                      

Semoga Khilafah Islamiyah segera tegak dimuka bumi, menggantikan sistem rusak yang sedang menguasai bumi saat ini. Insyaallah, janji Nya akan segera terbukti.