Opini : STOP Bullying, Ajari Anak

#justiceforaudrey #saveourchildren

 

Oleh : Nunu Zulian

 

Tidak ada orang tua yang rela anaknya disakiti, pun memiliki anak dengan tingkah di luar dugaan. Tapi kenyataannya kasus kriminalitas bermacam - macam, termasuk bullying.

Salah satu yang tengah hangat diperbincangkan adalah Audrey, gadis kecil berusia 14 tahun yang masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Pontianak, Kalimantan Barat.

Peristiwa ini termasuk bullying ekstrem, betapa tidak, 12 remaja SMU yang juga masih dibawah umur menjadi pelaku pengroyokan.

Miris, sedih bahkan amarah seketika memuncak menyaksikan berbagai pemberitaan yang mengisahkan tragisnya penganiayaan terhadap Audrey, meski kepastian krinologisnya masih dalam tahap penyidikan aparat kepolisian. Tapi seperti apapun aksinya, jelas menyakitkan.

Kisah Audrey menjadi perbincangan hangat di dunia maya. Tagar #JusticeForAudrey bahkan menjadi trending nomor satu Twitter dunia, dengan lebih dari 534.000 cuitan. Petisi di situs Change.org dengan judul “KPAI dan KPPAD, Segera Berikan Keadilan untuk Audrey #JusticeForAudrey!”, hingga Rabu (10/04) pagi, bahkan telah ditandatangani lebih 1,7 juta kali. (Sumber : voaindonesia.com)

Takut !!!
Kata itu mungkin sering terlintas di kepala orang tua, apa lagi ibu seperti saya dengan 3 orang anak. Itu kenapa saya jadi orang tua yang paling Concern tiap kali mendengar ada berita bullying. Anak pertama saya, bisa dibilang agak lemah, badannya kecil kurus. Hari pertama Awal  masuk Sekolah Dasar  (SD) saya titipkan ke sepupunya yang kebetulan satu sekolah.
“Jagain abang yah, kalo ada yg gangguin kasih tau bunda nunu”.

Mungkin bagi sebagian orang tua, saya contoh Bunda yg teralu berlebihan, boleh di cek hampir setiap tahun saya mampir ke sekolah abang cuma buat laporan ke Wali kelas nya, ketika pulang sekolah abang lapor habis dipukul kepalanya menggunakan topi oleh kakak kelas atau tiba - tiba pulang sekolah ada memar di bawah telinga.

Termasuk hal simple seperti ada coretan dengan spidol bertuliskan “bodoh” di topi sekolahnya.
Kalau sebagian Bunda berfikir itu cuma masalah simple dan menganggap “namanya juga anak2”
Sorry but not for me. Bagi saya penting untuk meng “cut” dari awal kejadian sepele itu sebelum berlanjut ke hal-hal serius.

Bullying berawal dari kejadian sederhana, seperti saling ejek kemudian  menghasut teman lain untuk menjauhi korban bullying dan  paling parah  seperti yang terjadi pada kasus Audrey yaitu tindak kekerasan fisik.

Sebenernya Ini bukan melulu tentang fisik tapi lebih dari itu, ketika aksi bully sudah mengarah ke mental dan psikis anak, siapa yg bisa menjamin hal tersebut tidak menjadi trauma  mendalam.

Saya pernah merasakan dibully,  ketika SD dikeroyok sepulang Sholat Tarawih, saat SMP hampir tidak punya temen cuma karena bermasalah dengan seorang teman yang kemudian mempengaruhi temen lain untuk menjauhi saya. Hal sesimple itu bisa bikin trauma apalagi sampai kekerasan secara fisik.

Di Luar Negeri saja orang tua dan para guru begitu concern terhadap pelaku bullying di sekolah. Masa kita mau diam saja ketika melihat ada pelaku bullying berkeliaran di sekitar wilayah belajar anak - anak kita. Apalagi dengan aksi membabi buta.

Biasanya pelaku memulai bullying di sekolah pada usia muda, dengan melakukan teror pada anak laki-laki dan perempuan secara emosional atau intimidasi psikologis. Anak mengganggu karena berbagai alasan. Biasanya karena mencari perhatian dari teman sebaya dan orang tua mereka atau karena merasa penting dan memegang kendali.

Belum lagi jika orang tua pelaku bullying  justru membela apa yang anak lakukannya lakukan, dijamin kondisi akan semakin parah, si anak merasa tidak melakukan kesalahan.

Please mom penting bagi kita setiap orang tua memahami karakter anak. Setiap orang tua pasti membela dan menjaga anak anaknya tapi tidak untuk sesuatu yang salah. Tidak ada pembenaran atas segala tindak kekerasan, meskipun itu yg dilakukan anak kecil.

Stop mendidik anak dengan cara  keras  bahkan arogan karena anak adalah peniru handal yang mungkin melakukan  hal  sama pada teman - temannya sebagai bentuk pelampiasan terhadap perlakuan
yg mereka terima.

Ayo...awasi pergaulan mereka. Ajari anak untuk lebih terbuka menceritakan apapun yang terjadi di Sekolah ataupun lingkungan bermainnya. "Nggak salah  kok jadi Bunda yg kepo. Jangan sampai ada Audrey - audrey lain yg menjadi korban".

#justiceforaudrey
#saveourchildren

Up.Editor : Kartika Anwar