UPDATEINDONESIA.COM – Tak banyak yang benar-benar memahami makna di balik kemeriahan ogoh-ogoh yang diarak keliling kota dalam rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940 oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bontang.
Minggu pagi (11/3), suasana Kota Bontang tampak berbeda. Belasan ogoh-ogoh—patung raksasa simbol kejahatan—diarak beriringan menelusuri rute dimulai dari Kantor Wali Kota lama di Jalan Awang Long, melewati kawasan Ramayana, Jalan R. Suprapto, Parikesit, kembali ke titik awal, dan berakhir di kawasan Mangrove TNK Saleba. Pawai ini dilepas langsung oleh Wakil Wali Kota Bontang, Basri Rase.
Lebih dari sekadar tradisi keagamaan, pawai ini menjadi panggung kolaborasi antar komunitas. Sebanyak 14 komunitas lintas budaya turut memeriahkan, mulai dari Bontang Ontel Community, JBI (Motor Custom), Paguyuban Wahyu Budoyo, Kesenian Arema, Paguyuban Bojonegoro, Kuda Lumping Ryo Manggolo Putro, hingga Ogoh-ogoh dan Bleganjur dari Paguyuban Bali. Tak ketinggalan, Duta Peduli Sampah dan Defile Kelurahan Bontang Baru juga turut ambil bagian.
Ketua Panitia Nyepi PHDI Bontang, I Wayan Raga, menyebut pawai ini lahir dari semangat swadaya masyarakat. “Ini bentuk cinta kami pada keragaman budaya, dan komitmen untuk menjaga kreatifitas dalam aksi nyata,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ogoh-ogoh dalam tradisi Bali bukan sekadar pertunjukan. Patung-patung ini adalah simbol pembersihan diri dari segala energi negatif dan perilaku buruk manusia. "Ogoh-ogoh mewakili Bhuta Kala, energi destruktif yang harus dikendalikan. Melalui prosesi ini, umat Hindu mengingatkan diri untuk mengelola alam dengan bijak," jelasnya.
Ogoh-ogoh dibentuk menyerupai makhluk jahat, dan biasanya dibangun oleh komunitas pemuda desa atau Seka Truna Truni. Patung-patung itu diletakkan di atas bantalan kayu dan bambu, lalu diarak oleh delapan hingga sepuluh orang pria dengan iringan musik bleganjur yang memekakkan telinga namun membangkitkan semangat.
Prosesi ini tak hanya membawa ogoh-ogoh berkeliling, tetapi juga memutar patung tersebut tiga kali di setiap simpang jalan, berlawanan arah jarum jam. “Itu simbolik, untuk membingungkan roh jahat agar mereka pergi dan tidak mengganggu manusia,” ungkapnya.
Uniknya, meski di Bali ogoh-ogoh biasanya dibakar di pemakaman setelah diarak, di Bontang pembakaran dilakukan sebelum upacara Melasti.
Secara historis, ogoh-ogoh adalah elemen baru dalam ritual Nyepi. Pertama kali muncul di Denpasar pada awal 1980-an, ogoh-ogoh sempat menjadi sorotan karena dipandang sebagai bentuk ekspresi yang mengandung kritik sosial terhadap kekuasaan Orde Baru kala itu.
Kini, ogoh-ogoh menjadi bagian penting dalam kebudayaan Hindu Indonesia—bukan hanya sebagai simbol religius, tapi juga bentuk nyata toleransi, kreativitas, dan persatuan dalam keberagaman. (*)

Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940 oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bontang.